Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke Rp17.105 per dolar AS pada Senin (13/4). Blokade Selat Hormuz oleh AS dan inflasi tinggi jadi pemicu utama tekanan mata uang.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tipis pada perdagangan sore ini, Senin (13/4). Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS serta meningkatnya eskalasi ketegangan geopolitik global yang memicu kekhawatiran pasar.
Dikutip dari Katadata.co.id, rupiah ditutup melemah 1 poin ke level Rp17.105 per dolar AS. Sebelumnya, mata uang Garuda sempat mengalami tekanan hebat hingga 40 poin sebelum akhirnya berhasil memangkas kerugian dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.104.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa sentimen negatif utama datang dari gagalnya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump secara resmi menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan memulai blokade terhadap jalur maritim Iran, termasuk Selat Hormuz.
“Langkah ini diambil setelah negosiasi intensif tidak menghasilkan kesepakatan. Blokade tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global, yang mendorong kenaikan harga energi dan inflasi,” ujar Ibrahim, Senin (13/4).
Selain faktor geopolitik, data inflasi AS terbaru menunjukkan lonjakan signifikan. Hal ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer), yang memberikan tenaga ekstra bagi penguatan indeks dolar.
Dari sisi domestik, Asian Development Bank (ADB) memberikan catatan penting bagi stabilitas ekonomi nasional. ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan mencapai 5,2%, sedikit meningkat dari realisasi tahun sebelumnya yang sebesar 5,1%. Namun, angka ini masih berada di bawah target pemerintah yang dipatok pada 5,4%.
ADB memperingatkan bahwa risiko eksternal seperti fluktuasi harga energi dan kebijakan moneter ketat di negara maju dapat memicu volatilitas aliran modal di pasar keuangan domestik. Percepatan reformasi struktural dan penguatan sektor manufaktur dinilai sangat krusial untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah transformasi yang inklusif.
Untuk perdagangan besok, Selasa (14/4), rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.150 per dolar AS.
Analisis Asatunews: Rupiah di Tengah “Perfect Storm” Geopolitik
Berdasarkan data perdagangan hari ini, tim Asatunews Intelijen melihat bahwa rupiah sedang menghadapi tantangan perfect storm (badai sempurna) yang datang dari berbagai arah:
Sentimen ‘War Premium’: Pengumuman blokade Selat Hormuz oleh Donald Trump adalah katalis paling berbahaya bagi mata uang emerging markets. Selat Hormuz adalah jalur nadi minyak dunia. Jika blokade benar-benar terjadi, harga minyak akan meroket, beban subsidi energi Indonesia akan membengkak, dan ini secara otomatis menekan Rupiah melalui jalur defisit transaksi berjalan.
Kekuatan Dolar AS (DXY): Kombinasi antara inflasi AS yang membandel dan ketidakpastian perang membuat dolar AS menjadi aset safe haven (pelindung) utama. Selama The Fed belum memberikan sinyal pelonggaran, rupiah akan terus terjerat dalam tren pelemahan jangka menengah.
Kesenjangan Target Pertumbuhan: Proyeksi ADB sebesar 5,2% menunjukkan bahwa mesin ekonomi domestik belum cukup panas untuk mengejar target pemerintah (5,4%) di tengah tekanan global. Hal ini menunjukkan terbatasnya ruang manuver kebijakan fiskal dan moneter dalam negeri.
Kesimpulan: Level Rp17.100 kini menjadi level psikologis baru yang sangat rapuh. Jika ketegangan di Timur Tengah tidak segera mereda dalam 48 jam ke depan, risiko pelarian modal (capital outflow) dari pasar obligasi dan saham Indonesia berpotensi menyeret rupiah lebih dalam menuju area Rp17.200.
