Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada Triwulan I-2026, didorong konsumsi domestik yang kuat dan penguatan daya beli masyarakat.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Bank Indonesia (BI) menyampaikan optimisme terhadap ketahanan ekonomi nasional di awal tahun ini. Ekonomi Indonesia diperkirakan tetap tumbuh solid di atas angka 5 persen, didorong oleh kekuatan sektor domestik yang terjaga di tengah dinamika global.
Dikutip dari Antaranews, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 diproyeksikan mencapai 5,2 persen.
“Triwulan I-2026 ini diperkirakan ekonomi kita masih tumbuh di atas 5 persen, dan kami juga memperkirakan di atas itu, 5,2 persen. Kita masih bersyukur punya domestik ekonomi yang cukup kuat, cukup strong,” ujar Destry dalam agenda Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4).
Berdasarkan indeks penghasilan terkini, tren peningkatan pendapatan terlihat pada berbagai kelompok masyarakat, baik dengan penghasilan di atas maupun di bawah Rp5 juta pada kuartal pertama tahun ini. Destry menyebut pemerintah memberikan perhatian khusus bagi masyarakat kelas bawah untuk memperkuat daya beli dan daya tahan ekonomi mereka.
Dari sisi produsen, indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur juga menunjukkan ekspektasi yang terus membaik. Meski sempat dibayangi fluktuasi pasar, momentum pertumbuhan di sektor produksi dinilai masih berada pada jalur yang positif.
Untuk menjaga tren ini, BI menekankan pentingnya sinergi kebijakan yang komprehensif, mencakup koordinasi fiskal, moneter, hingga eksekusi di sektor riil.
Destry juga menggarisbawahi visi Presiden RI Prabowo Subianto mengenai tiga pilar utama yang menjadi pondasi kekuatan negara dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik global:
Ketahanan Pangan: Diwujudkan melalui pembukaan lahan baru, pengembangan kampung nelayan, serta program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketahanan Energi: Melalui pembangunan kilang baru dan optimalisasi sumber daya domestik, termasuk pemanfaatan batu bara secara strategis.
Ketahanan Pertahanan dan Keamanan: Menjadi prioritas utama mengingat posisi Indonesia sebagai negara besar dengan populasi mencapai 280 juta jiwa.
“Ketahanan keamanan itu menjadi utama, apalagi Indonesia sebuah negara yang besar dengan penduduk yang 280 juta, jadi tentunya pertahanan keamanan juga menjadi prioritas utama saat ini,” pungkas Destry.
Analisis Asatunews: Sinyal Optimisme di Tengah Tekanan Geopolitik
Berdasarkan paparan Bank Indonesia di atas, tim Asatunews Intelijen melihat adanya beberapa poin krusial bagi arah ekonomi nasional kedepan:
Resiliensi Domestik sebagai Penopang: Angka 5,2% adalah angka yang ambisius namun realistis jika melihat konsumsi rumah tangga yang tetap tumbuh. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada ekspor, melainkan memiliki mesin internal yang kuat.
Visi “Big Push” Prabowo: Fokus pada pangan, energi, dan pertahanan menandakan pergeseran kebijakan ke arah kemandirian nasional. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya kebijakan sosial, tetapi juga berfungsi sebagai stimulus ekonomi sektor riil di tingkat lokal (UMKM pangan).
Waspada Transisi Energi: Meskipun BI menyebut batu bara melimpah sebagai sumber energi strategis, tantangan global terkait standar ESG (lingkungan) akan terus membayangi. Indonesia perlu menyeimbangkan antara penggunaan batu bara domestik dengan tekanan transisi energi hijau dari investor global.
Kesimpulan: Pernyataan Destry Damayanti merupakan upaya market signaling untuk menjaga kepercayaan investor di bursa saham dan pasar uang, menegaskan bahwa meski geopolitik memanas (akibat isu AS-Iran), fundamental Indonesia tetap kokoh karena ditopang oleh tiga pilar ketahanan negara tersebut. ****
