Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode kedua April 2026 resmi naik. Batu bara kalori tinggi tembus US$103,43 per ton. Cek rincian harga terbaru dari Menteri ESDM.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua April 2026. Dalam keputusan terbaru, seluruh kategori kalori batu bara mencatatkan kenaikan signifikan, dengan harga tertinggi menembus level US$103,43 per ton.
Dikutip dari Bisnis.com, ketetapan ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 145.K/MB.01/MEM.B/2026 yang ditandatangani oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Kenaikan ini menandai tren positif komoditas energi fosil di tengah fluktuasi pasar mineral logam global.
Berdasarkan regulasi tersebut, berikut rincian harga untuk berbagai kategori kalori:
-
Kalori 6.322 kcal/kg GAR: Dipatok **US$103,43 per ton**, naik dari periode pertama yang sebesar US$99,87.
-
Kalori 5.300 kcal/kg GAR: Ditetapkan **US$77,71 per ton**, menguat dari sebelumnya US$72,28.
-
Kalori 4.100 kcal/kg GAR: Berada di level **US$52,84 per ton**, naik tipis dari US$49,99.
-
Kalori 3.400 kcal/kg GAR: Naik ke posisi **US$38,3 per ton** dari sebelumnya US$35,23.
Berbeda dengan batu bara yang kompak menguat, mayoritas Harga Mineral Logam Acuan (HMA) justru menunjukkan pelemahan. Dikutip dari Bisnis.com, HMA Nikel turun menjadi US$16.933,57 per dmt, sementara tembaga melemah drastis ke level US$12.134,21 per dmt. Namun, aluminium dan kobalt berhasil mencatatkan penguatan tipis masing-masing ke level US$3.407,96 dan US$55.852,86 per dmt.
Analisis Redaksi Asatunews Intelijen: Ketergantungan
Kenaikan harga batu bara di seluruh lini kalori pada pertengahan April 2026 menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap energi fosil tetap kuat, kemungkinan besar dipicu oleh dinamika stok energi di kawasan Asia. Lonjakan kalori tinggi ke angka US$103,43 merupakan indikasi pengetatan suplai atau peningkatan permintaan industri.
Di sisi lain, pelemahan harga mineral logam strategis seperti nikel dan tembaga perlu diwaspadai oleh para pelaku industri hilirisasi nasional. Penurunan ini bisa menjadi cermin dari melambatnya penyerapan bahan baku di sektor kendaraan listrik atau infrastruktur global. Kontrasnya pergerakan antara energi (batu bara) dan logam industri ini menegaskan bahwa strategi diversifikasi portofolio tambang menjadi kunci krusial bagi ketahanan ekonomi Indonesia di sisa kuartal kedua 2026. ****
