IHSG berhasil menguat 0,46% ke level 7.492 pada sesi I Senin (13/4/2026) di tengah anjloknya bursa Asia akibat kegagalan negosiasi AS-Iran. Sektor energi dan bahan baku pimpin penguatan.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menunjukkan resiliensi pada perdagangan sesi pertama awal pekan ini, Senin (13/4/2026). Meski sempat dibuka melemah hingga 1% akibat tekanan global, indeks domestik mampu berbalik arah ke zona hijau.
Dikutip dari RTI via MSN Ekonomi, IHSG mencatatkan penguatan sebesar 0,46% atau naik 34,235 poin ke level 7.492,731. Data perdagangan menunjukkan sebanyak 348 saham menguat, 305 saham melemah, dan 162 saham bergerak stagnan.
Penguatan IHSG di tengah sentimen global yang tidak menentu didorong oleh mayoritas sektor industri. Sektor bahan baku (IDX-Basic) mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 2,53%. Di posisi kedua, sektor energi (IDX-Energy) melesat 2,40%, disusul sektor industri (IDX-Industry) yang naik 1,88%.
Di deretan saham blue chip (LQ45), beberapa emiten mencatatkan kenaikan signifikan:
PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Naik 15,40% ke Rp 2.210
PT Medco Energi Internasional (MEDC): Naik 5,79% ke Rp 1.645
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK): Naik 4,57% ke Rp 915
Sebaliknya, beberapa saham besar harus parkir di zona merah, di antaranya PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang turun 2,18% dan PT Astra International Tbk (ASII) yang terkoreksi 1,98%.
Kenaikan IHSG ini tergolong anomali jika dibandingkan dengan bursa kawasan Asia-Pasifik yang mayoritas memerah. Sentimen negatif global dipicu oleh kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kegagalan ini meningkatkan kekhawatiran pasar akan pecahnya konflik berkepanjangan di Timur Tengah, terutama setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan kembali opsi serangan udara terhadap Iran.
Kondisi geopolitik tersebut langsung mendorong lonjakan harga komoditas energi. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 8,54% ke level US$ 104,82 per barel, sementara Brent meroket 7,27% ke level US$ 102,51 per barel.
Dampaknya, indeks Nifty 50 India anjlok hampir 2%, Nikkei 225 Jepang turun 1,09%, dan Hang Seng Hong Kong melemah 1,22%.
Analisis Strategi: Mengapa IHSG “Melawan Arus”?
Berdasarkan data perdagangan hari ini, tim Asatunews Intelijen melihat adanya pergeseran minat investor yang unik di pasar modal Indonesia:
IHSG sebagai Proxy Komoditas: Penguatan IHSG di tengah anjloknya bursa Asia membuktikan bahwa pasar modal Indonesia masih sangat sensitif terhadap harga komoditas. Lonjakan minyak WTI dan Brent di atas US$ 100 menjadi katalis positif bagi sektor energi (MEDC) dan bahan baku (BRPT), yang secara bobot mampu mengimbangi pelemahan saham perbankan atau telekomunikasi.
Efek Trump dan Risiko Geopolitik: Ketidakpastian global seringkali memicu capital outflow dari pasar negara berkembang. Namun, dalam skenario “perang energi”, emiten tambang dan migas Indonesia justru menjadi tempat berlindung (hedging) bagi investor lokal maupun asing untuk mengamankan nilai aset dari potensi inflasi energi global.
Waspada Tekanan Lanjutan: Meskipun sesi I ditutup menguat, investor perlu mencermati pelemahan Rupiah yang biasanya menyertai lonjakan harga minyak. Jika risiko defisit APBN melebar akibat beban subsidi energi, IHSG mungkin akan menghadapi tekanan jual di sesi kedua atau hari berikutnya.
Kesimpulan: Tren saat ini menunjukkan pasar sedang melakukan rebalancing portofolio dari sektor konsumer dan manufaktur ke sektor energi. Strategi wait and see terhadap keputusan serangan udara AS terhadap Iran tetap menjadi kunci utama dalam menjaga profil risiko pekan ini. ******
