Pasar Bitcoin terbelah menjadi dua kubu di tengah konflik global. Simak analisis data pembeli institusional vs penjual ritel serta dampaknya bagi harga BTC ke depan.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Dinamika pasar kripto dalam enam minggu terakhir menunjukkan fenomena unik yang membelah pelaku pasar Bitcoin (BTC) ke dalam dua kubu ekstrem. Di satu sisi, pembeli institusional terus melakukan akumulasi besar-besaran, sementara di sisi lain, investor ritel dan pemegang besar lainnya (whale) justru terpantau meninggalkan pasar.
Dikutip dari CoinDesk, meskipun dibayangi sentimen negatif akibat konflik global dan likuidasi senilai USD 600 juta, harga Bitcoin terpantau relatif stabil di rentang USD 65.000 hingga USD 73.000 selama lima minggu terakhir. Stabilitas ini dipicu oleh “mandat” pembelian dari entitas besar yang menahan tekanan jual dari pihak lain.
Terdapat tiga entitas utama yang menjadi motor penggerak permintaan Bitcoin saat ini. Strategy (merujuk pada MicroStrategy dalam konteks laporan tersebut) tetap menjadi pembeli paling terlihat. Pada 5 April, perusahaan ini menambah 4.871 BTC senilai USD 329,9 juta. Secara total, kepemilikan mereka mencapai 766.970 BTC. Meskipun posisi mereka saat ini mengalamai kerugian sekitar 8% secara teknis, perusahaan terus melakukan pembelian untuk menurunkan harga rata-rata (average down).
Selain itu, ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat menyerap sekitar 50.000 BTC dalam periode 30 hari di bulan Maret, mencapai laju bulanan tertinggi sejak Oktober 2025. Aliran dana dari produk ETP (Exchange Traded Products) global juga masih mengalir, terutama dari produk yang terdaftar di Swiss yang menyumbang USD 157 juta dalam satu minggu terakhir.
Berbanding terbalik dengan institusi, kelompok yang memiliki kebebasan diskresi justru memilih untuk menjual. Data dari CryptoQuant mengungkapkan bahwa Whale yang memegang 1.000 hingga 10.000 BTC telah berubah dari pembeli terbesar menjadi penjual terbesar.
Perubahan kepemilikan Whale dalam satu tahun terakhir berayun drastis dari positif 200.000 BTC menjadi negatif 188.000 BTC. Ini disebut sebagai salah satu siklus distribusi paling agresif yang pernah tercatat.
Tak hanya Whale, para penambang Bitcoin (miners) yang terdaftar di bursa seperti Riot Platforms, MARA Holdings, dan Genius Group juga dilaporkan melepas lebih dari 19.000 BTC dari perbendaharaan mereka dalam satu minggu. Tekanan operasional akibat biaya energi yang tinggi dan kesulitan penambangan yang mencapai rekor tertinggi membuat beberapa perusahaan mulai beralih fokus ke hosting AI.
Bahkan, negara seperti Bhutan dilaporkan telah menjual 70% simpanan Bitcoin mereka sejak Oktober 2024, menyisakan hanya sekitar 3.954 BTC.
Pengumuman gencatan senjata baru-baru ini sempat memicu reli harian tertajam, membawa Bitcoin melampaui angka USD 72.000. Likuidasi posisi short mencapai USD 427 juta dalam 24 jam. Coinbase Premium juga berubah menjadi positif untuk pertama kalinya sejak rekor tertinggi Oktober lalu, menandakan kembalinya minat pembeli dari AS.
Namun, para analis memperingatkan bahwa struktur pasar tetap rapuh karena basis pembeli yang semakin menyempit. Keberlanjutan harga Bitcoin kini sangat bergantung pada apakah aliran dana institusional mampu menembus “langit-langit” resistensi USD 73.000 yang terus menolak reli sejak Februari lalu.
Analisis Redaksi Asatunews.biz.id: Fase Konsolidasi
Berdasarkan data di atas, pasar Bitcoin saat ini sedang mengalami fase konsolidasi yang dipaksakan. Berikut adalah poin analisisnya:
Pasar kini sangat bergantung pada segelintir entitas (MicroStrategy dan ETF). Jika aliran dana ke instrumen ini melambat, Bitcoin kehilangan “jaring pengaman” utamanya, yang bisa memicu koreksi dalam karena tidak ada dukungan dari pembeli ritel.
Peralihan kapasitas penambang ke AI hosting menunjukkan bahwa profitabilitas menambang Bitcoin murni mulai tergerus. Ini bisa berdampak pada keamanan jaringan jangka panjang atau setidaknya mengubah struktur suplai di pasar.
Adanya Fear and Greed Index yang sempat tertahan di angka ekstrem (8-14) menunjukkan ketakutan ritel sangat nyata. Namun, harga tidak kolaps karena diserap institusi. Ini menciptakan divergensi; harga terlihat kuat di permukaan, namun kerangka pendukungnya semakin sempit.
Level USD 73.000 adalah kunci. Gencatan senjata memberikan nafas baru, tetapi tanpa kembalinya minat pembeli diskresional (ritel dan whale menengah), Bitcoin kemungkinan besar hanya akan bergerak sideways dalam rentang lebar. *****
