Harga energi global, termasuk minyak mentah Brent dan WTI, anjlok hingga dua digit menyusul kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran.
ISLAMABAD, ASATUNEWS.BIZ.ID – Harga energi global mencatatkan penurunan signifikan pada pekan ini seiring meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Penurunan tajam ini dipicu oleh keberhasilan upaya diplomasi yang menghasilkan kesepakatan gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai.
Dikutip dari Anadolu Agency (AA), penurunan harga komoditas energi ini terjadi setelah Pakistan, bersama dengan Türkiye, China, Arab Saudi, dan Mesir, berhasil mengamankan gencatan senjata selama dua minggu antara Washington dan Teheran pada Rabu lalu. Langkah ini dilakukan 40 hari setelah Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata tersebut, kedua belah pihak setuju untuk bertemu di Islamabad guna merundingkan perdamaian yang berkelanjutan. Berita positif ini langsung direspons oleh pasar komoditas global dengan aksi jual besar-besaran setelah sempat terjadi fluktuasi tajam sepanjang minggu.
Berdasarkan data penutupan perdagangan pada Jumat, harga minyak mentah Brent mencatatkan penurunan sebesar 14,06% dibandingkan penutupan pekan lalu, menetap di level $94,3 per barel. Penurunan lebih tajam terjadi pada West Texas Intermediate (WTI) yang anjlok 15% ke level $95,6 per barel.
Sektor gas alam di Eropa juga tidak luput dari tren penurunan. Indeks acuan TTF Belanda merosot 12,44% menjadi €43,8 (sekitar $51,3) per megawatt/jam. Sementara itu, di Inggris, harga gas alam juga terpangkas hingga 15%.
Selain minyak dan gas, harga minyak pemanas (heating oil) turut mengalami koreksi sebesar 13,6%, kini berada di level $3,7 per galon.
Meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk menjadi faktor utama yang menekan harga kembali ke level sebelum konflik meningkat secara signifikan. Para pelaku pasar kini fokus mengamati jalannya negosiasi di Islamabad untuk menentukan arah harga energi di masa mendatang.
Analisis Strategi Asatunews.biz.id: Dampak Gencatan Senjata terhadap Volatilitas Pasar
Penurunan harga energi sebesar dua digit dalam satu pekan menunjukkan betapa besarnya “premi risiko” perang yang sebelumnya tersemat pada harga komoditas. Berikut adalah poin-poin analisis strategisnya:
Peran Pakistan, China, dan Arab Saudi dalam menengahi AS-Iran menunjukkan pergeseran kekuatan diplomasi di Timur Tengah. Keberhasilan ini memberikan sentimen instan bahwa jalur distribusi energi di Selat Hormuz akan tetap aman, yang secara otomatis menghilangkan kecemasan pasar atas kelangkaan pasokan.
Penurunan harga Brent ke bawah level $100 mencerminkan kembalinya fundamental pasar. Investor yang sebelumnya melakukan spekulasi beli (long position) saat konflik pecah pada Februari kini melakukan aksi ambil untung dan keluar dari pasar seiring hilangnya katalis perang.
Meskipun harga anjlok pekan ini, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi. Gencatan senjata ini baru bersifat sementara (dua minggu). Jika negosiasi di Islamabad mengalami kebuntuan, harga energi berisiko melonjak kembali dengan cepat (v-shape recovery) karena pasar akan kembali mengantisipasi eskalasi militer.
Bagi negara-negara importir energi, penurunan ini memberikan ruang napas bagi kebijakan moneter untuk menekan inflasi. Namun, stabilitas ini sangat rapuh dan bergantung sepenuhnya pada keberlanjutan hasil perundingan damai pekan depan. ****
