Harga minyak WTI naik ke US$99,41 per barel hari ini. Gencatan senjata AS-Iran gagal pulihkan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.
LONDON, ASATUNEWS.BIZ.ID – Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan kenaikan pada perdagangan Jumat (10/4/2026). Sentimen pasar dipicu oleh kegagalan pemulihan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz meskipun kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah tercapai awal pekan ini.
Dikutip dari Anadolu Agency, harga minyak mentah US West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 1,55% menjadi US$99,41 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni turut terkerek 1,45% ke posisi US$97,33 per barel pada pukul 07.10 GMT.
Meskipun gencatan senjata telah disepakati pada Selasa lalu dengan kompensasi pembukaan kembali jalur pelayaran komersial, kondisi di lapangan menunjukkan kenyataan berbeda. CEO ADNOC, Sultan Al Jaber, mengungkapkan bahwa jalur perairan paling kritis di dunia tersebut sebagian besar masih tertutup bagi pelayaran reguler.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis menuduh Iran gagal memberikan akses penuh bagi pengiriman minyak. Trump juga memperingatkan Teheran agar tidak memungut biaya lintas kepada kapal tanker, yang memicu keraguan baru atas ketahanan gencatan senjata berdurasi dua minggu tersebut.
Selain hambatan di Hormuz, kekhawatiran pasokan diperparah oleh serangan terhadap infrastruktur energi di Arab Saudi. Otoritas setempat melaporkan bahwa serangan tersebut memangkas kapasitas produksi kerajaan sebesar 600.000 barel per hari (bph).
Arus melalui pipa East-West, yang menjadi jalur alternatif ekspor saat Hormuz terganggu, juga berkurang sekitar 700.000 bph. Kerusakan pada ladang minyak Manifa dan Khurais serta fasilitas pemurnian semakin menambah tekanan pada pasokan energi regional. Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz diketahui menangani sekitar 20% pasokan minyak global.
Analisis Redaksi Asatunews.biz.id Intelijen: Tidak Percaya Gencatan Senjata
Kenaikan harga minyak kembali menuju level US$100 per barel menunjukkan bahwa pasar tidak sepenuhnya percaya pada efektivitas gencatan senjata “di atas kertas”. Masalah utama bukanlah tidak adanya perjanjian, melainkan ketidakmampuan kedua belah pihak untuk menjamin keamanan navigasi di Selat Hormuz secara praktis.
Tuduhan Trump mengenai “biaya lintas” kapal tanker menyiratkan bahwa Iran mungkin menggunakan kontrol jalur perairan tersebut sebagai alat tawar ekonomi baru. Di sisi lain, gangguan pada produksi Arab Saudi sebesar 600.000 bph menciptakan defisit pasokan nyata yang sulit ditutup dalam waktu singkat. Bagi Indonesia, tren harga minyak yang kembali memanas ini merupakan alarm bagi stabilitas subsidi energi domestik, mengingat posisi WTI yang kini hanya terpaut tipis dari angka psikologis US$100. *****
