Wall Street ditutup menguat Jumat (10/4/2026). Indeks Dow Jones naik 275 poin saat tensi AS-Iran mereda, meski harga minyak Brent naik ke US$96,4 per barel.
NEW YORK, ASATUNEWS.BIZ.ID– Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan. Optimisme investor kembali pulih seiring meredanya kekhawatiran atas potensi berakhirnya gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Dikutip dari Anadolu Agency, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 0,58% atau 275,88 poin ke level 48.185,80. Penguatan juga diikuti oleh Nasdaq Composite yang naik 0,83% ke posisi 22.822,42, serta S&P 500 yang bertambah 0,62% menjadi 6.824,66.
Seiring dengan kembalinya nafsu makan risiko (risk appetite) pasar, Volatility Index (VIX) yang sering disebut sebagai “indeks ketakutan” Wall Street, anjlok 7.37% ke level 19,49.
Meskipun harga minyak dunia terus merangkak naik akibat tersendatnya lalu lintas di Selat Hormuz, pasar saham tetap bergerak positif. Optimisme ini diperkuat oleh pengumuman Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengenai dimulainya negosiasi langsung dengan Lebanon.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent naik sekitar 2% menjadi US$96,4 per barel. Namun, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memberikan catatan peringatan. Ia menyatakan bahwa skenario paling optimis sekalipun pasca-perang di Timur Tengah tetap akan melibatkan revisi turun terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global.
Dari sisi makroekonomi, data menunjukkan ekonomi AS tumbuh 0,5% pada kuartal keempat 2025, sedikit di bawah perkiraan. Selain itu, jumlah klaim tunjangan pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 4 April melonjak menjadi 219.000, melebihi ekspektasi pasar.
Sementara itu, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti—ukuran inflasi favorit Fed—naik 0,4% secara bulanan dan 3% secara tahunan pada Februari, sesuai dengan proyeksi analis.
Berbeda dengan Wall Street, mayoritas bursa Eropa justru berakhir di zona merah. Indeks STOXX Europe 600 turun 0,15%. DAX Jerman merosot tajam 1,14%, sementara FTSE 100 Inggris turun tipis 0,05%. Sebaliknya, FTSE MIB Italia berhasil melawan arus dengan kenaikan 0,5%.
Analisis Redaksi Asatunews.biz.id Intelijen: Ketangguhan Psikologis
Reli di Wall Street kali ini menunjukkan ketangguhan psikologis investor terhadap volatilitas harga minyak. Meskipun Brent merangkak naik ke level US$96,4, pasar lebih memilih merespons narasi deeskalasi konflik antara AS-Iran dan prospek damai di Lebanon.
Namun, data makroekonomi AS memberikan sinyal waspada. Kenaikan klaim pengangguran ke angka 219.000 dan pertumbuhan ekonomi yang melambat (0,5%) mengindikasikan bahwa dampak tingginya harga energi mulai merembes ke sektor ketenagakerjaan. Peringatan Kristalina Georgieva dari IMF mempertegas bahwa tantangan sesungguhnya adalah pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang akan melambat akibat disrupsi berkelanjutan di jalur logistik energi dunia seperti Selat Hormuz. ****
