Bitcoin kembali tembus US$70.000 hari ini seiring turunnya harga minyak ke bawah US$100. Simak analisis pemulihan pasar kripto dan arus modal ETF terbaru.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Pasar aset digital menunjukkan ketangguhan luar biasa pada perdagangan Selasa (10/3/2026) pagi waktu Asia Timur. Bitcoin (BTC) berhasil kembali melampaui level psikologis US$70.000, menuntaskan pemulihan cepat setelah sempat terseret jatuh hingga ke kisaran US$65.000 pada akhir pekan lalu.
Rebound ini terjadi berbarengan dengan melandainya harga minyak dunia yang kembali turun ke bawah level US$100 per barel, serta menguatnya bursa saham Amerika Serikat. Sebelumnya, sentimen risk-off menyelimuti pasar global akibat gangguan di Selat Hormuz yang sempat memicu lonjakan harga minyak WTI dan Brent.
Market maker Enflux mencatat bahwa Bitcoin menunjukkan resiliensi yang signifikan meski menghadapi skala guncangan energi yang besar. “Bitcoin sempat turun di bawah 66 ribu dolar selama gelombang awal risk-off, namun dengan cepat stabil di kisaran 66 ribu hingga 68 ribu dolar,” tulis Enflux dalam laporannya. Secara relatif, performa Bitcoin dinilai lebih baik dibandingkan saham maupun beberapa aset lindung nilai tradisional lainnya.
Arus modal masuk dari institusi melalui ETF Bitcoin Spot di AS terus memberikan dukungan harga. Data dari SoSoValue menunjukkan akumulasi arus masuk bersih mencapai US$568 juta pada pekan lalu, menyusul US$787 juta pada pekan sebelumnya. Hingga saat ini, total arus masuk bersih kumulatif ke berbagai produk ETF telah menembus angka US$55 miliar.
Analis dari Glassnode melaporkan bahwa indikator on-chain dan derivatif menunjukkan pasar mulai stabil. “Momentum, permintaan ETF, dan metrik profitabilitas membaik secara bertahap, meskipun aliran modal secara umum masih lunak dan partisipasi spekulatif masih terbatas,” ungkap laporan tersebut.
Pasar prediksi juga merespons positif kembalinya Bitcoin ke level US$70.000. Di platform Polymarket, peluang Bitcoin menyentuh angka US$75.000 pada bulan Maret ini melonjak tajam menjadi sekitar 56 persen, naik signifikan dari posisi 34 persen pada hari sebelumnya. Hal ini menandakan pergeseran cepat ekspektasi pedagang seiring pulihnya kepercayaan pasar.
Analisis Korelasi: Mengapa Bitcoin Lebih Cepat “Rebound” Dibanding Emas Saat Krisis Energi Melandai?
Fenomena unik terjadi di pasar keuangan global pekan ini. Saat harga minyak mentah mulai melandai ke bawah level US$100, Bitcoin justru menunjukkan pemulihan (rebound) yang lebih agresif dibandingkan Emas. Padahal, saat guncangan awal terjadi, keduanya sempat bergerak bersama sebagai aset perlindungan.
Mengapa Bitcoin tampak lebih “perkasa” saat tensi geopolitik mulai sedikit mereda? Berikut analisisnya:
1. Sifat Aset: Risk-On vs Risk-Off. Emas adalah aset Safe Haven murni. Ia bersinar saat ketakutan memuncak. Namun, ketika pasar mulai mencerna berita geopolitik dan merasa risiko mulai terkendali, investor cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) pada emas dan mengalihkan dana kembali ke aset pertumbuhan. Bitcoin, yang memiliki karakteristik Emas Digital sekaligus High-Tech Asset, menarik aliran dana tersebut lebih cepat karena potensi imbal hasil yang lebih tinggi.
2. Likuiditas Institusi Melalui ETF. Berbeda dengan krisis tahun-tahun sebelumnya, Bitcoin tahun 2026 didorong oleh infrastruktur institusional yang masif. Arus masuk bersih ke ETF Bitcoin yang menembus US$55 miliar menunjukkan bahwa institusi Wall Street melihat setiap penurunan (dip) sebagai peluang beli, bukan sekadar pelarian sementara dari inflasi.
3. Kecepatan Transaksi dan Agilitas Pasar. Pasar kripto beroperasi 24/7 dengan likuiditas digital yang sangat cair. Saat sentimen di Polymarket bergeser ke arah bullish, eksekusi pasar terjadi dalam hitungan detik. Sementara itu, pergerakan emas fisik cenderung lebih lambat karena melibatkan mekanisme perdagangan komoditas tradisional yang lebih kaku. ****
