Harga Bitcoin hari ini turun ke US$67.960 akibat penguatan Dolar AS dan konflik Timur Tengah. Cek analisis on-chain dan prospek pasar kripto terbaru di sini.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Pasar kripto kembali mengalami tekanan pada akhir pekan ini. Bitcoin (BTC) terpantau merosot ke level US$67.960 pada Sabtu (7/3/2026) pagi, mencatatkan penurunan sebesar 3,4 persen dalam 24 jam terakhir setelah sempat menyentuh level tertinggi mingguan.
Penurunan ini juga diikuti oleh sejumlah aset kripto utama (majors) lainnya. Ether (ETH) anjlok 4,4 persen ke posisi US$1.974, Solana (SOL) turun 4 persen menjadi US$84,31, sementara BNB dan XRP masing-masing terkoreksi 2,6 persen dan 2,2 persen.
Penguatan signifikan indeks Dolar AS (DXY) menjadi hambatan utama bagi aset risiko seperti Bitcoin. Mata uang Paman Sam tersebut mencatatkan kenaikan mingguan tertajam dalam satu tahun terakhir. Hal ini dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap kenaikan biaya energi dan inflasi yang tetap tinggi akibat konflik Amerika Serikat-Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
“Seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, investor dengan cepat beralih ke keamanan Dolar AS. Pasar mulai memperhitungkan kenaikan harga energi yang berpotensi menunda pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve,” kata Björn Schmidtke, CEO Aurelion.
Berdasarkan data dari Glassnode, kondisi di bawah permukaan pasar menunjukkan kerentanan. Saat ini, sekitar 43 persen dari total pasokan Bitcoin di pasar berada dalam posisi merugi (at a loss).
Kondisi ini menciptakan resistensi yang kuat saat harga mencoba naik. Para pemegang saham yang “nyangkut” cenderung melakukan aksi jual saat harga mendekati titik impas (break even). Inilah penyebab utama mengapa lonjakan Bitcoin ke level US$74.000 pada Kamis lalu gagal bertahan dan kembali terseret ke zona US$68.000.
Meski sentimen pasar didominasi rasa takut, terdapat titik terang dari aliran masuk stablecoin. Data Messari mencatat lonjakan net inflow stablecoin sebesar 415 persen menjadi US$1,7 miliar dalam sepekan terakhir.
Hal ini mengindikasikan adanya modal segar (dry powder) yang siap masuk kembali ke pasar. Namun, investor masih menunggu waktu yang tepat untuk melakukan akumulasi, di tengah ketidakpastian makroekonomi dan gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang terus membayangi pasar global.
Strategi Menghadapi Pasar Kripto yang “Nyangkut”: Tips Manajemen Risiko bagi Investor Ritel
Melihat data bahwa 43% suplai Bitcoin saat ini sedang merugi, wajar jika muncul rasa cemas di kalangan investor. Agar tetap objektif di tengah fluktuasi harga yang tajam, berikut adalah langkah-langkah manajemen risiko yang bisa Anda terapkan:
1. Hindari “Revenge Trading”
Saat harga turun, banyak investor tergoda untuk membuka posisi lebih besar dengan harapan menutup kerugian dengan cepat. Di pasar yang sedang volatil akibat isu geopolitik, tindakan ini sangat berisiko. Tetaplah pada rencana awal dan jangan biarkan emosi mengambil alih keputusan investasi.
2. Evaluasi “Break Even” Point
Data menunjukkan resistensi kuat di level US$74.000 karena banyak orang ingin keluar saat titik impas. Jika Anda termasuk yang merugi, tentukan target realistis. Apakah Anda akan keluar sepenuhnya saat balik modal, atau tetap memegang aset untuk jangka panjang? Memiliki rencana exit yang jelas akan mengurangi tekanan mental.
3. Pantau Pergerakan “Dry Powder” (Stablecoin)
Lonjakan inflow stablecoin sebesar 415% adalah sinyal bahwa “uang besar” sedang menunggu di pinggir lapangan. Jangan terburu-buru menjual semua aset jika fundamental jangka panjang Bitcoin masih Anda yakini, karena aliran dana ini bisa memicu pembalikan harga (rebound) sewaktu-waktu.
4. Fokus pada Narasi Makro (Dolar AS & Perang)
Untuk saat ini, musuh utama kripto bukanlah teknologinya, melainkan ketegangan AS-Iran dan penguatan Dolar. Jika ketegangan di Selat Hormuz mereda, biasanya aset risiko akan kembali bernapas. Gunakan berita di Asatunews.biz.id untuk memantau kapan tensi geopolitik mulai mendingin.
5. Diversifikasi ke Aset Aman
Jika portofolio kripto Anda sudah terlalu merah, pertimbangkan untuk menyeimbangkannya dengan aset yang cenderung menguat saat perang, seperti emas (Logam Mulia). Seperti yang kita bahas sebelumnya, emas Antam justru sedang meroket di saat Bitcoin terkoreksi.
Emas vs Bitcoin: Mana yang Lebih Tangguh Menghadapi Gejolak Perang di Timur Tengah?
Di tengah memanasnya konflik Amerika Serikat-Iran dan gangguan di Selat Hormuz, investor global dihadapkan pada pilihan sulit: kembali ke aset klasik (Emas) atau tetap bertahan di aset digital (Bitcoin). Sepanjang pekan pertama Maret 2026, keduanya menunjukkan performa yang kontras.
Berikut adalah perbandingan mendalam untuk membantu Anda menentukan pilihan:
1. Stabilitas Harga (Volatility)
-
Emas: Cenderung stabil dan bergerak naik perlahan saat tensi perang meningkat. Emas dianggap sebagai “jangkar” saat pasar saham dan aset berisiko lainnya rontok.
-
Bitcoin: Meskipun sering disebut “Emas Digital”, volatilitasnya tetap tinggi. Seperti terlihat minggu ini, Bitcoin sempat menyentuh $74.000 namun jatuh kembali ke $67.000 karena tekanan Dolar AS.
2. Reaksi Terhadap Geopolitik
-
Emas: Menang telak dalam hal psikologi pasar. Saat Selat Hormuz terganggu, harga emas dunia biasanya langsung merespons positif sebagai bentuk perlindungan nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian.
-
Bitcoin: Masih berperilaku seperti “aset risiko” (seperti saham teknologi). Ketika Dolar AS menguat tajam akibat investor mencari keamanan (flight to quality), Bitcoin justru seringkali tertekan.
3. Likuiditas dan Aksesibilitas
-
Emas: Investasi fisik (seperti Antam) memerlukan penyimpanan yang aman, namun sangat diakui secara global selama ribuan tahun.
-
Bitcoin: Unggul dalam hal mobilitas. Anda bisa memindahkan kekayaan melintasi perbatasan negara hanya dengan ponsel, yang sangat berguna dalam situasi darurat di wilayah konflik.
4. Data Terbaru Maret 2026
Minggu ini, 43% suplai Bitcoin di pasar berada dalam posisi merugi, sementara harga emas Antam terus mencetak rekor baru seiring naiknya biaya energi. Hal ini menunjukkan bahwa untuk jangka pendek di tengah “war shock”, emas masih memegang kendali sebagai aset pelindung utama.
Kesimpulan: Mana yang Harus Dipilih?
-
Pilih Emas: Jika profil risiko Anda rendah dan ingin mengamankan nilai aset dari inflasi gila-gilaan akibat kenaikan harga minyak.
-
Pilih Bitcoin: Jika Anda memiliki napas panjang (jangka panjang) dan percaya bahwa setelah ketegangan mereda, aliran dana stablecoin yang mencapai US$1,7 miliar akan kembali memicu lonjakan harga (rally). ****
Tips Redaksi Asatunews:
“Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang. Strategi terbaik saat ini adalah diversifikasi. Alokasikan sebagian ke emas untuk ketenangan pikiran, dan sebagian kecil ke kripto untuk potensi pertumbuhan di masa depan.”
“Investasi kripto memiliki risiko tinggi. Kunci utama bertahan di pasar ini bukan tentang seberapa banyak Anda untung saat naik, tapi seberapa baik Anda mengelola kerugian saat pasar sedang turun.”
