INDONESIA CURRENCY UPDATE

RUPIAH TERKAPAR DI LEVEL Rp17.881

Badai Risiko Geopolitik Selat Hormuz dan Sikap Hawkish The Fed Paksa Mata Uang Garuda Tekor

KURS RUPIAH SPOT Rp 17.881 (-0,20%)
KURS JISDOR BI Rp 17.883 / USD
PELEMAHAN HARIAN Terkoreksi 35 Poin
🔥 CRYPTO UPDATE: 🚀 BITCOIN (BTC): $92.450 (+1,52%) 💎 ETHEREUM (ETH): $3.850 (+0,85%) 🔸 BINANCE (BNB): $615,20 (-0,12%) ☀️ SOLANA (SOL): $185,45 (+2,10%) 💰 BTC/IDR: Rp 1,45 Miliar 📊 SENTIMEN: Extreme Greed (78)
INDONESIA CURRENCY UPDATE

RUPIAH TERKAPAR DI LEVEL Rp17.881

Badai Risiko Geopolitik Selat Hormuz dan Sikap Hawkish The Fed Paksa Mata Uang Garuda Tekor

KURS RUPIAH SPOT Rp 17.881 (-0,20%)
KURS JISDOR BI Rp 17.883 / USD
PELEMAHAN HARIAN Terkoreksi 35 Poin
MARKET WATCH
USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
BerandaBISNISMakroBendung Tekanan Global, Bank Indonesia Luncurkan Repo Valas SVBI untuk Perkuat Rupiah

Bendung Tekanan Global, Bank Indonesia Luncurkan Repo Valas SVBI untuk Perkuat Rupiah

-

Bank Indonesia meluncurkan Repo Valas SVBI/SUVBI per 30 Maret 2026 untuk perkuat Rupiah di tengah kenaikan harga minyak dunia US$103 per barel.

JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan instrumen moneter baru berupa transaksi repo dalam valuta asing (valas) dengan underlying Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI) pada Senin (30/3/2026). Langkah ini diambil sebagai strategi pro-pasar untuk memperdalam pasar uang sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Dikutip dari Republika, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa instrumen ini merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter. Tujuannya adalah meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan serta mempercepat pendalaman pasar valas (PUVA).

“Kehadiran instrumen ini memberikan alternatif tambahan bagi perbankan dalam pengelolaan likuiditas, khususnya likuiditas valas,” ujar Erwin dalam keterangannya di Jakarta.

Melalui fitur repo ini, karakteristik SVBI dan SUVBI kini semakin kuat sebagai High Quality Liquid Assets (HQLA). BI berharap aktivitas pasar sekunder untuk kedua instrumen tersebut akan meningkat, sehingga mampu menjadi penyangga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika global yang kian menantang.

Selain peluncuran instrumen baru, BI juga memperketat aturan transaksi valas mulai April 2026. Di antaranya adalah penurunan ambang batas (threshold) tunai beli valas terhadap Rupiah dari 100 ribu dolar AS menjadi 50 ribu dolar AS per pelaku per bulan. Sebaliknya, BI menaikkan ambang batas jual DNDF serta transaksi swap guna memberikan fleksibilitas lebih bagi pelaku pasar dalam melakukan lindung nilai (hedging).

Peluncuran instrumen ini bertepatan dengan kondisi Rupiah yang terus tertekan. Pada Senin pagi, Rupiah melemah ke level Rp16.981 per dolar AS. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan ini didorong oleh meroketnya harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menyentuh 103 dolar AS per barel.

Gangguan di Selat Hormuz sejak awal Maret 2026 yang menghambat pengiriman 20 juta barel minyak per hari menjadi pemicu utama kelangkaan pasokan global. “Harga minyak yang tinggi dipastikan akan memicu inflasi sehingga bank sentral akan merespons dengan kenaikan suku bunga,” kata Lukman. Ia memprediksi BI akan melakukan intervensi masif jika Rupiah menembus level psikologis Rp17.000.

Analisis Redaksi Asatunews.biz.id Intelijen: BI Berikan Napas

Langkah Bank Indonesia meluncurkan Repo Valas SVBI/SUVBI adalah bentuk tindakan preventif (pre-emptive) yang sangat agresif. Dengan menjadikan SVBI sebagai aset yang bisa di-repo-kan, BI memberikan “napas” bagi perbankan nasional yang mungkin mulai kesulitan likuiditas dolar AS akibat kenaikan harga minyak dunia.

Kenaikan harga minyak WTI ke US$103 dan Brent yang sebelumnya menyentuh US$114 menciptakan tekanan ganda: inflasi impor (imported inflation) dan defisit transaksi berjalan. Dengan memperketat batas pembelian valas tunai menjadi US$50 ribu, BI secara halus mencoba mengerem spekulasi di tingkat ritel, sementara instrumen repo dan kenaikan batas swap ditujukan untuk menjaga stabilitas di tingkat institusi.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Rupiah akan menyentuh Rp17.000, melainkan seberapa kuat cadangan devisa kita bertahan di tengah blokade Selat Hormuz yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. *****

 

 

Endang Suherman
Endang Suhermanhttps://asatunews.biz.id
Pusat komando informasi Asatunews.biz.id. Dari fluktuasi Bitcoin di pasar London hingga taktik strategi di Premier League, kami menyaring ribuan informasi global untuk menyajikannya secara ringkas, akurat, dan berintegritas. Berpatokan pada prinsip 'Resilience Over Returns', kami memastikan informasi yang Anda terima adalah amunisi terbaik untuk navigasi di era ketidakpastian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERKINI

Makin Tertekan, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.881 per Dolar AS Akibat Badai Geopolitik dan Sentimen The Fed

Nilai tukar Rupiah ambruk ke level Rp17.881 per dolar AS pada penutupan Jumat sore. Fluktuasi harga minyak dan ancaman suku bunga The Fed jadi pemicu...

Investor Asing Gocek Portofolio, IHSG Ditutup Melemah Tipis di Tengah Sentimen Rebalancing MSCI

IHSG ditutup melemah tipis 0,05% ke level 6.127,38 pada Jumat sore akibat penyesuaian portofolio investor global terhadap indeks MSCI. Rupiah tembus Rp17.881. Indeks Harga Saham Gabungan...

Sinyal Damai AS-Iran Muncul, Harga Komoditas Energi Global Kompak Ditutup Melandai

Harga minyak mentah Brent, WTI, dan gas alam Eropa (Dutch TTF) kompak merosot menyusul sinyal damai antara AS dan Iran. Simak dampak dan analisisnya untuk...

Sentimen Timur Tengah Mereda, Dow Jones Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah di Level 50.285

Bursa saham New York (Wall Street) ditutup menguat dipimpin rekor historis Dow Jones. Simak sentimen harga minyak, obligasi AS, saham IBM, serta dampaknya bagi Indonesia. Bursa...

Popular

BAMSOETNEWS.COM

Referensi Utama

NAVIGASI
POLITIK &
HUKUM

Menyajikan berita aktual, tajam, dan terpercaya langsung dari jantung kebijakan nasional.

Dinamika Parlemen
Analisis Hukum & Peradilan
Update Ekonomi Nasional
Straight News • Faktual • Objektif