Bitcoin bertahan di US$71.000 meski AS serang kilang minyak Iran di Pulau Kharg. Simak analisis pasar kripto jelang rapat The Fed dan ancaman Donald Trump.
SINGAPURA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Memasuki minggu kedua perang di Timur Tengah, performa Bitcoin (BTC) menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Meski sempat terkoreksi tipis akibat serangan militer Amerika Serikat ke fasilitas ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg, harga Bitcoin masih bertengger di level US$71.000 pada Sabtu pagi (14/3/2026).
Sebelumnya, Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi di US$73.838 pada perdagangan Jumat sebelum berita pengeboman Pulau Kharg memicu penurunan sekitar 3,5%. Namun, berbeda dengan awal pecahnya konflik, kali ini pasar bereaksi lebih tenang tanpa adanya aksi jual masif yang dalam.
Para pelaku pasar tampaknya mulai beradaptasi dengan pola konflik yang terjadi. Meski ketegangan meningkat, performa mingguan aset kripto utama tetap berada di zona hijau:
-
Bitcoin (BTC): Naik 4,2% dalam sepekan.
-
Ether (ETH): Menguat 5,5% ke level US$2.090.
-
Dogecoin (DOGE): Naik 5%.
-
BNB: Tumbuh 4,5% ke US$655.
Namun, hambatan besar masih membayangi di area resistance US$73.000 – US$74.000 yang telah empat kali gagal ditembus Bitcoin dalam dua minggu terakhir.
Situasi kian memanas setelah Presiden Donald Trump menyatakan melalui Truth Social bahwa ia “mempertimbangkan kembali” serangan ke infrastruktur energi jika Iran terus memblokade Selat Hormuz. Pihak Iran merespons dengan mengancam akan melakukan serangan balasan terhadap fasilitas terkait AS di wilayah tersebut jika kilang minyak mereka menjadi target.
Badan Energi Internasional (IEA) telah menyebut gangguan pasokan energi saat ini sebagai yang terbesar dalam sejarah. Hal ini diperparah dengan likuidasi pasar sebesar US$371 juta dalam 24 jam terakhir, di mana likuidasi posisi *short* (beruang) mencapai US$207 juta.
Kini perhatian investor tertuju pada pertemuan Federal Reserve pada 17-18 Maret mendatang. Dengan harga minyak di atas US$100 dan ancaman stagflasi yang makin nyata, pasar menanti apakah Powell akan memberikan sinyal kembalinya kenaikan suku bunga.
CME FedWatch saat ini memprediksi peluang 95% suku bunga tetap di level 3,5% hingga 3,75%. Namun, revisi pada dot plot dan konferensi pers Powell akan menjadi penentu nasib aset berisiko seperti kripto di akhir bulan ini.
Strategi Trading Kripto Akhir Pekan: Antisipasi “Sideways” dan Jebakan Likuiditas Jelang Rapat The Fed
Bitcoin yang bertahan di level US$71.000 menunjukkan adanya konsolidasi kuat. Namun, volume perdagangan akhir pekan biasanya lebih rendah, yang sering kali memicu pergerakan harga yang menipu (fakeout).
Berikut adalah panduan strategi bagi para trader Asatunews.biz.id:
1. Identifikasi Range Sempit (US$70.500 – US$72.500)
Selama tidak ada serangan balasan besar di Timur Tengah dalam 24 jam ke depan, Bitcoin diprediksi akan bergerak mendatar. Strategi terbaik adalah Wait and See atau melakukan Scalping di rentang harga sempit. Jangan terburu-buru melakukan All-In sebelum ada kejelasan dari arah kebijakan suku bunga Powell.
2. Waspadai “Sunday Dip”
Secara historis, sering terjadi penurunan tipis di hari Minggu malam saat pasar Asia bersiap dibuka untuk hari Senin. Jika Bitcoin turun ke bawah US$70.000, ini bisa menjadi area akumulasi bertahap (DCA) bagi investor jangka panjang, namun merupakan sinyal bahaya bagi future traders dengan leverage tinggi.
3. Amankan Profit pada Altcoins
Mengingat Ether (ETH) dan Solana (SOL) naik lebih tinggi dari BTC dalam sepekan terakhir, sebagian trader mulai melakukan profit taking. Mengamankan modal ke dalam stablecoin (USDT/USDC) atau memindahkannya ke Emas Digital bisa menjadi langkah defensif yang bijak untuk menghadapi potensi guncangan di hari Selasa nanti. ****
