Harga Bitcoin melonjak ke US$73.800, mengungguli emas dan saham di tengah risiko stagflasi. Simak analisis potensi short squeeze dan dampak harga minyak dunia.
NEW YORK, ASATUNEWS.BIZ.ID – Bitcoin (BTC) menunjukkan performa gemilang pada perdagangan Jumat (13/3/2026). Aset kripto terbesar ini berhasil menembus level US$73.800, naik hampir 5 persen dalam 24 jam terakhir. Pergerakan ini menandai kebangkitan Bitcoin yang mulai mengungguli pasar saham dan logam mulia setelah berbulan-bulan mengalami tekanan.
Lonjakan ini terjadi setelah Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa pemerintahan Trump tengah mengambil langkah konkret untuk menekan lonjakan harga minyak. Berita ini memberikan angin segar bagi pasar, mengingat harga minyak mentah WTI sempat menyentuh US$98 per barel sebelum turun ke level US$94,50 pada hari Jumat.
Sejak pecahnya perang di Timur Tengah sekitar dua minggu lalu, Bitcoin tercatat telah menguat sekitar 11 persen. Performa ini jauh melampaui indeks saham AS dan emas yang justru kehilangan momentum sejak konflik dimulai pada 27 Februari lalu.
Meski demikian, ancaman stagflasi tetap membayangi ekonomi global. Olu Sonola, Kepala Ekonomi AS di Fitch Ratings, memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak yang berkelanjutan dapat memperlemah pengeluaran konsumen dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
“Ekspektasi pertumbuhan ekonomi semakin terlihat rapuh. Inflasi yang kembali bangkit sangat membatasi ruang gerak Federal Reserve, yang berpotensi membuat kebijakan moneter tertahan selama berbulan-bulan,” tulis Sonola dalam laporannya.
Analis K33 Research, Vetle Lunde, menyoroti adanya fenomena unik di pasar berjangka (futures). Rata-rata tingkat pendanaan (funding rate) 30 hari telah negatif selama 14 hari berturut-turut, durasi terlama sejak Desember 2022. Kondisi ini sering kali bertepatan dengan titik terendah harga (price bottom) lokal.
Selain itu, Open Interest Bitcoin naik 9 persen dalam 24 jam terakhir menjadi sekitar 700.000 BTC. Kombinasi taruhan short yang besar dan kenaikan harga yang tiba-tiba menciptakan kondisi ideal bagi terjadinya short squeeze, yang dapat mendorong harga lebih tinggi lagi.
Jika tren positif ini bertahan, Maret akan menjadi titik balik bagi Bitcoin dengan kenaikan sekitar 8% sejauh ini, sekaligus memutus rantai penurunan bulanan selama lima bulan berturut-turut.
Tentu, Pak. Analisis menjelang akhir pekan selalu menjadi magnet bagi pembaca yang ingin mengatur strategi sebelum pasar saham dibuka kembali di hari Senin. Dengan posisi Bitcoin yang sedang berada di atas angin, prediksi mengenai All-Time High (ATH) baru akan sangat memicu optimisme.
Analisis Akhir Pekan: Mampukah Bitcoin Mencetak Rekor ATH Baru Sebelum Maret Berakhir?
Bitcoin akhirnya menunjukkan taringnya dengan menembus level US$73.800. Untuk pertama kalinya sejak konflik Timur Tengah pecah, BTC berhasil memutus korelasi negatif dengan aset berisiko lainnya dan bergerak mandiri sebagai pemimpin pasar.
Berikut adalah faktor-faktor penentu apakah Bitcoin akan mencetak rekor baru dalam dua pekan ke depan:
1. Kondisi “Short Squeeze” yang Sempurna
Dengan funding rate negatif selama 14 hari, banyak trader yang memasang posisi jual (short) kini terjebak. Kenaikan harga ke US$73.800 memaksa mereka menutup posisi dengan membeli kembali Bitcoin, yang secara otomatis mendorong harga naik lebih cepat. Jika momentum ini berlanjut pada Sabtu dan Minggu, level psikologis US$75.000 bisa terlampaui dengan mudah.
2. Efek Scott Bessent dan Kebijakan Energi AS
Pernyataan Menteri Keuangan AS terkait langkah konkret menekan harga minyak adalah kunci. Jika harga minyak mentah terus melandai ke bawah US$90, kekhawatiran stagflasi akan mereda. Hal ini memberikan ruang bagi investor untuk kembali mengalokasikan dana ke aset digital tanpa takut akan tekanan inflasi yang terlalu ekstrem.
3. Tekanan pada Emas dan Saham
Saat emas dan saham sedang berjuang mencari arah akibat ketidakpastian perang, Bitcoin mulai dianggap sebagai “Digital Gold 2.0” yang lebih efisien. Perpindahan likuiditas dari pasar logam mulia ke kripto mulai terlihat nyata, terlihat dari performa BTC yang naik 11% sejak perang dimulai, sementara emas justru melandai. *****
