Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa ungkap ketahanan Rupiah yang hanya terdepresiasi 0,3% saat perang. Simak data inflow asing di pasar saham dan SBN Maret 2026.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah memanasnya dinamika global. Menurutnya, stabilitas nilai tukar rupiah dan tingginya kepercayaan investor asing menjadi bukti nyata fondasi ekonomi domestik yang solid.
Dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026), Purbaya menepis kekhawatiran berlebihan mengenai pelemahan rupiah akibat konflik geopolitik. Ia mengungkapkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda saat ini relatif terbatas jika dibandingkan dengan narasi negatif yang beredar.
“Ada yang bilang rupiah hancur, tetapi kalau dilihat betul, setiap ada perang, rupiah itu hanya terdepresiasi sebesar 0,3 persen. Jadi, sebetulnya bagus daya tahan kita,” ujar Purbaya.
Ia menjelaskan bahwa kepercayaan investor asing tercermin dari selisih imbal hasil (spread) antara Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dengan obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury). Data menunjukkan spread tersebut hanya naik tipis dari 240 basis poin pada Januari 2025 menjadi sekitar 243 basis poin saat ini.
“Naiknya hanya terbatas, hanya 3 basis poin. Artinya asing masih percaya ke kita. Yang domestik saja yang tidak percaya,” sindirnya.
Purbaya juga memaparkan data aliran modal asing (inflow) yang tetap menunjukkan tren positif pada Maret 2026. Investasi asing pada instrumen saham dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masing-masing mencatat masuknya dana sekitar Rp2,2 triliun.
Sementara itu, pada instrumen SBN, arus modal keluar (outflow) tercatat sangat terbatas, yakni hanya sekitar Rp0,7 triliun.
“Jadi, setelah gonjang-ganjing di bulan Maret, sebetulnya modal masih masuk ke sini. Artinya mereka percaya betul bahwa fondasi kita bagus. Investor yang asli seperti ini, karena mereka benar-benar menaruh uangnya,” jelas Purbaya.
Pemerintah optimistis bahwa dengan terjaganya indikator makroekonomi ini, Indonesia akan mampu melewati periode ketidakpastian global tanpa guncangan berarti pada sektor keuangan.
Analisis: Mengapa Rupiah Lebih Tangguh dari Mata Uang Regional Lainnya di 2026?
Di tengah eskalasi konflik di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dunia, nilai tukar Rupiah menunjukkan performa yang mengejutkan. Seperti yang disampaikan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, depresiasi Rupiah yang hanya 0,3% jauh lebih stabil dibandingkan beberapa mata uang di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur.
Berikut adalah tiga faktor utama mengapa Garuda lebih perkasa dibanding regional lainnya:
1. Keunggulan Eksportir Komoditas (Commodity Currency) Berbeda dengan Thailand atau Filipina yang merupakan importir energi murni, Indonesia diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas global. Saat harga minyak naik, harga batu bara dan CPO biasanya mengikuti. Aliran devisa dari ekspor komoditas ini menjadi “jangkar” yang menjaga pasokan dolar di dalam negeri tetap melimpah.
2. Kebijakan SRBI yang Atraktif Bank Indonesia (BI) sangat taktis dalam menarik modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Dengan imbal hasil yang kompetitif, SRBI berhasil menarik inflow hingga Rp2,2 triliun pada Maret ini, yang secara langsung memperkuat cadangan devisa dan menopang nilai tukar.
3. Pengelolaan Fiskal dan Utang yang Pruden Selisih imbal hasil (spread) SBN terhadap US Treasury yang hanya melebar 3 basis poin (ke level 243 bps) menunjukkan bahwa risiko gagal bayar Indonesia dianggap sangat rendah oleh investor global. Kepercayaan ini membuat investor tidak terburu-buru melakukan capital flight dari pasar keuangan Indonesia. ****
