Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke level Rp16.802 per dolar AS pada Senin (23/2/2026). Simak faktor pemicu penguatan rupiah dan pengaruh kebijakan tarif AS di sini.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berhasil menutup perdagangan awal pekan, Senin (23/2/2026), dengan performa gemilang. Mata uang Garuda menguat tajam sebesar 86 poin atau 0,51% ke level Rp16.802 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp16.888 per dolar AS.
Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah juga mencatatkan penguatan di level Rp16.818 per dolar AS. Kenaikan ini disebut-sebut sebagai penguatan harian terbesar rupiah sepanjang tahun 2026 berjalan.
Penguatan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah ke level 97,45 setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan kebijakan tarif global tertentu yang sebelumnya diberlakukan Presiden Donald Trump. Selain itu, rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal IV-2025 yang menurun drastis menjadi 1,4% akibat government shutdown turut menekan greenback.
Dari sisi domestik, sentimen positif datang dari pengumuman Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia terkait kesepakatan debt switching senilai Rp173,4 triliun untuk menjaga stabilitas pasar SBN, sebagaimana disiarkan dalam konferensi pers APBN Kita di kanal YouTube resmi Kemenkeu RI. *****
