IHSG hari ini ditutup anjlok 1,85% ke level 6.599,24 bersamaan dengan nilai tukar rupiah yang ambruk ke Rp 17.667 per dollar AS akibat sentimen regional.
Tekanan jual masif melanda pasar keuangan domestik pada perdagangan awal pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jeblok signifikan dibayangi oleh sentimen negatif regional Asia serta aksi lepas saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) oleh pelaku pasar.
Dikutip dari Kompas.com, IHSG ditutup anjlok 1,85 persen atau terpangkas 124,08 poin ke level 6.599,24 pada perdagangan Senin (18/5/2026). Sepanjang sesi, indeks bergerak sangat fluktuatif di rentang 6.398,79 hingga 6.631,28 setelah sempat dibuka melemah lebih dari 2 persen dan merosot hingga di atas 4 persen pada sesi I.
Penurunan ini mengikis kapitalisasi pasar bursa menjadi Rp 11.539 triliun. Kendati demikian, aktivitas transaksi terpantau tetap ramai dengan nilai perdagangan mencapai Rp 20,47 triliun hingga Rp 20,71 triliun, didukung volume perdagangan sekitar 29,72 miliar hingga 31,99 billion lembar saham dengan frekuensi mencapai 2,54 juta hingga 2,57 juta kali transaksi.
Berdasarkan data Refinitiv, tekanan jual merata di seluruh indeks sektoral dengan sektor bahan baku mencatatkan koreksi paling dalam. Diikuti oleh sektor transportasi yang anjlok 6,20 persen, sektor bahan baku turun 5,17 persen, serta sektor perindustrian melemah 3,24 persen. Sektor utilitas dan kesehatan juga masing-masing merosot 2,96 persen dan 2,75 persen.
Ambruknya indeks hari ini dipicu oleh rontoknya sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps). Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi beban utama setelah didepak dari indeks global MSCI. DSSA anjlok 14,98 persen ke level 880, sedangkan TPIA merosot 14,88 persen ke posisi 3.660. Kedua saham ini bahkan sempat menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB) sejak perdagangan pagi.
Saham perbankan jumbo ikut memperberat langkah bursa. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi emiten penekan terbesar dengan menyumbang penurunan 12,55 poin terhadap IHSG, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar 6,26 poin.
Di sisi lain, saham PT Astra International Tbk (ASII) tampil memimpin barisan top gainers LQ45 dengan penguatan 4,35 persen, ditemani PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 4,18 persen, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang tumbuh 4,05 persen.
Keterpurukan pasar saham berjalan selaras dengan pelemahan nilai tukar rupiah di pasar spot. Mata uang garuda ditutup merosot sekitar 71 poin ke level Rp 17.667 per dollar AS. Posisi ini resmi tercatat sebagai level penutupan rupiah terlemah sepanjang sejarah.
Koreksi massal ini juga searah dengan mayoritas bursa di kawasan Asia yang didominasi oleh zona merah. Indeks Nikkei 225 Jepang jatuh 0,97 persen ke level 60.815,95, disusul indeks Hang Seng Hong Kong yang terkoreksi 1,11 persen ke posisi 25.675,18, dan indeks SSE Composite China melemah tipis 0,09 persen ke level 4.131,53. Di tengah pelemahan regional, hanya indeks Straits Times Singapura yang berhasil merayap naik tipis 0,12 persen ke posisi 4.994,97.
Analisis Redaksi Asatunews Intelijen: Sentimen Kuat
Kejatuhan ganda (double hit) pada IHSG ke level 6.599 dan jebolnya rupiah hingga Rp 17.667 per dollar AS menandakan adanya guncangan sentimen yang sangat kuat di pasar modal Indonesia. Faktor pemicu utamanya bersifat kombinasi (interlocking factors), yakni aksi rebalancing indeks global MSCI yang memicu tekanan jual masif pada saham penggerak indeks seperti DSSA dan TPIA, berbarengan dengan keluarnya modal asing (capital outflow) dari saham perbankan besar (BBRI dan BMRI).
Namun, jika melihat volume dan nilai transaksi yang tetap tinggi di kisaran Rp 20 triliun, pasar sebenarnya tidak kekurangan likuiditas. Terjadinya perpindahan dana ke saham defensif dan komoditas (seperti ASII, ITMG, dan TLKM) mengindikasikan bahwa kepanikan ini bersifat rotasi portofolio jangka pendek akibat kepatuhan dana global terhadap indeks acuan, bukan akibat kerusakan struktural pada emiten bursa domestik. Level terendah rupiah yang mencetak rekor sejarah membutuhkan perhatian khusus dari otoritas moneter karena tingginya volume transaksi bursa membuktikan bahwa pasar masih aktif merespons dinamika volatilitas regional secara rasional. *****
