🔥 CRYPTO UPDATE: 🚀 BITCOIN (BTC): $92.450 (+1,52%) 💎 ETHEREUM (ETH): $3.850 (+0,85%) 🔸 BINANCE (BNB): $615,20 (-0,12%) ☀️ SOLANA (SOL): $185,45 (+2,10%) 💰 BTC/IDR: Rp 1,45 Miliar 📊 SENTIMEN: Extreme Greed (78)
MARKET WATCH
USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
BerandaPASAR MODALSahamKhawatir Inflasi Akibat Lonjakan Harga Minyak, Bursa Saham AS dan Eropa Kompak...

Khawatir Inflasi Akibat Lonjakan Harga Minyak, Bursa Saham AS dan Eropa Kompak Tumbang

-

Bursa saham AS (Wall Street) dan Eropa kompak anjlok akibat lonjakan harga minyak Brent ke 109 dollar AS yang memicu kekhawatiran inflasi dan suku bunga The Fed.

Pasar keuangan global diselimuti sentimen negatif pada penutupan perdagangan akhir pekan. Ambruknya bursa saham di Amerika Serikat (AS) dan Eropa dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah yang kembali mengobarkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap ancaman inflasi global.

Dikutip dari Anadolu Agency, indeks utama di bursa Wall Street (New York Stock Exchange) mengakhiri hari perdagangan terakhir pekan ini dengan rapor merah. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 1,07 persen atau terpangkas 537,29 poin ke level 49,526.17. Pelemahan ini diikuti oleh indeks S&P 500 yang anjlok 1,24 persen atau 92,74 poin ke posisi 7,408.50, serta indeks Nasdaq Composite yang terjun bebas 1,54 persen atau 410,08 poin menuju level 26,225.14.

Sejalan dengan kejatuhan indeks saham, Volatility Index (VIX), yang sering disebut sebagai “indeks ketakutan” pasar, melonjak 6,78 persen ke level 18.43. Hal ini mencerminkan tingginya kecemasan investor di tengah ketidakpastian makroekonomi yang terus meningkat.

 Tren negatif di pasar saham menguat setelah rilis data ekonomi AS pekan ini menunjukkan percepatan kenaikan harga akibat lonjakan harga komoditas energi. Data inflasi April mencatatkan tingkat tahunan tertinggi sejak Mei 2023, sementara inflasi produsen (PPI) melonjak dengan laju tahunan tertinggi sejak Desember 2022.

Kondisi tersebut langsung mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke posisi 4,59 persen, yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2025. Menyusul rilis angka-angka tersebut, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS (The Fed) kian melemah. Pelaku pasar di pasar uang kini secara masif memproyeksikan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga kebijakan tetap tinggi hingga akhir tahun ini.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia terus melanjutkan tren kenaikan akibat ketegangan di Timur Tengah serta kekhawatiran atas pasokan energi global. Harga minyak mentah berjangka jenis Brent melonjak 3,5 persen menjadi 109,40 dollar AS per barel. Sentimen pasar semakin diperberat setelah pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan konkret seperti yang dinantikan pelaku pasar.

Keterpurukan Wall Street langsung merembet ke pasar saham Eropa yang juga ditutup kompak melemah. Indeks pan-Eropa, Stoxx Europe 600, terkoreksi 0,76 persen ke posisi 616.05 poin.

Pelemahan di tingkat regional dipimpin oleh indeks DAX 40 Jerman yang merosot tajam 2,07 persen menjadi 23,950.57. Sementara itu, indeks FTSE 100 Inggris menurun 1,71 persen ke level 10,195.37, indeks CAC 40 Prancis jatuh 1,6 persen ke posisi 7,952.55, indeks FTSE MIB 30 Italia anjlok 1,87 persen ke level 49,116.47, dan indeks IBEX 35 Spanyol terkikis 1,05 persen ke posisi 17,622.70.

Analisis Redaksi Asatunews Intelijen: Alarm Keras

Kejatuhan serempak bursa saham AS dan Eropa merupakan alarm keras bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Koreksi ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa, melainkan cerminan dari kembalinya momok higher-for-longer (suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama). Lonjakan minyak Brent yang menembus 109,40 dollar AS per barel secara langsung merusak peta jalan (roadmap) penurunan inflasi global, yang dibuktikan dengan rekor inflasi tertinggi AS sejak 2023.

Ketika inflasi kembali berakselerasi dan yield Treasury 10 tahun AS menyentuh 4,59 persen, pasar dipaksa melakukan kalkulasi ulang (repricing). Pupusnya harapan pemangkasan suku bunga Fed hingga akhir tahun ini akan memicu penguatan dollar AS secara global (dollar rally). Bagi pasar domestik Indonesia, kombinasi dari mahalnya harga minyak dunia dan kokohnya suku bunga AS akan memperberat tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan memicu risiko capital flight dari pasar saham regional menuju aset yang lebih aman (safe haven). Kebuntuan diplomasi ekonomi antara Trump dan Xi Jinping kian menegaskan bahwa ketidakpastian geopolitik global masih akan menjadi motor penggerak volatilitas pasar dalam jangka pendek. ****

Endang Suherman
Endang Suhermanhttps://asatunews.biz.id
Pusat komando informasi Asatunews.biz.id. Dari fluktuasi Bitcoin di pasar London kami menyaring ribuan informasi global untuk menyajikannya secara ringkas, akurat, dan berintegritas. Berpatokan pada prinsip 'Resilience Over Returns', kami memastikan informasi yang Anda terima adalah amunisi terbaik untuk navigasi di era ketidakpastian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERKINI

Survei BI: Kredit Baru Diprakirakan Naik pada Triwulan IV 2026, SBT Capai 91,31%

Survei Perbankan BI memproyeksikan penyaluran kredit baru naik pada triwulan IV 2026 dengan SBT 91,31%. Pertumbuhan kredit tahunan diperkirakan 8,20%. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penyaluran kredit...

Pasar Global Tertekan, Kekhawatiran Investasi AI dan Konflik Timur Tengah Bayangi Laporan Laba Teknologi

Pasar saham global tertekan pada 22 Oktober 2026. Kekhawatiran pendanaan AI, pelemahan saham teknologi, dan kenaikan minyak di tengah ketegangan Timur Tengah membayangi laporan laba...

Harga Minyak Dunia Melonjak 3%, Serangan ke Ladang Minyak Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan

Harga minyak Brent menembus US$112 per barel setelah serangan di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan dan eskalasi konflik Timur Tengah. Harga minyak mentah dunia melonjak...

Emas Dunia Turun di Bawah US$4.100, Harga Perak Ikut Tertekan Lonjakan Minyak

Harga emas dunia turun di bawah US$4.100 per ounce pada 22 Oktober 2026. Lonjakan minyak memicu kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi. Pasar logam mulia...

Popular

BAMSOETNEWS.COM

Referensi Utama

NAVIGASI
POLITIK &
HUKUM

Menyajikan berita aktual, tajam, dan terpercaya langsung dari jantung kebijakan nasional.

✔ Dinamika Parlemen
✔ Analisis Hukum & Peradilan
✔ Update Ekonomi Nasional
Straight News • Faktual • Objektif