Di bawah strategi “Back to Starbucks”, Starbucks umumkan PHK terhadap 300 karyawan sektor pendukung di AS dan berencana efisiensi operasional internasional.
Raksasa jaringan kedai kopi global, Starbucks, resmi mengumumkan langkah pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawannya di Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan guna memangkas kompleksitas organisasi dan menekan biaya operasional.
Dikutip dari Anadolu Agency, Starbucks mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka akan merumahkan sekitar 300 karyawan di AS. Jumlah tersebut mencakup sekitar 3 persen dari total tenaga kerja di sektor pendukung (support roles) yang berada di negara paman sam tersebut.
“Kami mengambil tindakan lebih lanjut di bawah strategi ‘Back to Starbucks’, memanfaatkan momentum bisnis kami yang kuat dan bekerja untuk mengembalikan perusahaan menuju pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan,” jelas pihak Starbucks dalam pernyataan resminya kepada FOX.
Manajemen Starbucks menyatakan bahwa para pemimpin di masing-masing divisi telah melakukan evaluasi mendalam terhadap fungsi kerja mereka. Hal ini dilakukan demi mempertajam fokus bisnis, memprioritaskan produktivitas, mengurangi kompleksitas birokrasi internal, serta menurunkan pengeluaran korporasi.
Sebagai tindak lanjut dari evaluasi keras tersebut, manajemen memutuskan untuk mengeliminasi sekitar 300 posisi di sektor pendukung domestik. Selain pemangkasan karyawan, Starbucks juga mengonfirmasi adanya rencana penutupan beberapa kantor pusat regional (regional support offices).
Efisiensi ini dipastikan tidak hanya berhenti di pasar domestik AS. Starbucks saat ini tengah meninjau ulang struktur organisasi pendukung internasional mereka seiring dengan fokus baru perusahaan untuk menjadi pemberi lisensi kelas dunia (world-class licensor). Pihak manajemen memperkirakan akan ada dampak pengurangan peran atau posisi tambahan di luar wilayah AS dalam waktu dekat.
Analisis Redaksi Asatunews Intelijen: Pergeseran Fokus Korporasi
Kebijakan PHK yang ditempuh Starbucks melalui strategi “Back to Starbucks” mencerminkan pola pergeseran fokus korporasi multinasional yang kini cenderung beralih ke model bisnis asset-light (padat modal rendah). Dengan menargetkan reposisi menjadi world-class licensor, Starbucks mencoba mengurangi beban biaya tetap (fixed costs) di sektor pendukung internasional dan menyerahkan risiko operasional regional kepada para pemegang lisensi lokal di berbagai negara.
Meskipun persentase pemangkasan di AS tergolong kecil (3% dari tenaga kerja pendukung), penutupan beberapa kantor regional pendukung mengirimkan sinyal kuat bahwa margin keuntungan korporasi global sedang mengalami tekanan akibat inflasi biaya bahan baku dan ketatnya kompetisi retail kopi global. Efisiensi di level hulu ini dilakukan untuk mengamankan fundamental kas jangka panjang korporasi agar tetap mampu mencatatkan profitable growth di tengah dinamika pasar konsumen global yang kian fluktuatif. Bagi pasar internasional, restrukturisasi ini perlu dicermati karena potensi rasionalisasi posisi di luar AS berpeluang berdampak pada jaringan manajerial mereka di berbagai belahan dunia. ****
