Nilai tukar rupiah dibuka stagnan di Rp17.337 per dolar AS pada Senin (4/5/2026). Pasar pantau dampak Proyek Kebebasan Trump di Selat Hormuz dan data inflasi RI.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau bergerak datar pada pembukaan perdagangan Senin pagi (4/5/2026). Meskipun dibuka stagnan, mata uang Garuda diprediksi berpotensi menguat menyusul meredanya kekhawatiran gangguan pasokan global di Timur Tengah.
Dikutip dari Antara, rupiah bergerak 0 poin atau 0,00 persen di level Rp17.337 per dolar AS, sama dengan posisi penutupan sebelumnya. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah memiliki peluang menguat merespons langkah diplomasi terbaru Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz.
Mengutip laporan Anadolu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan inisiatif bertajuk “Proyek Kebebasan”. Dalam inisiatif ini, AS akan mulai mengawal kapal-kapal asing netral keluar dari Selat Hormuz sebagai isyarat kemanusiaan bagi negara-negara yang terjebak dalam konflik.
Trump menyatakan telah menginstruksikan perwakilannya untuk memandu kapal dan awak mereka keluar dari jalur terlarang tersebut hingga area tersebut benar-benar aman untuk navigasi. Langkah ini dinilai efektif meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan menekan harga minyak dunia.
Selain faktor geopolitik, penguatan rupiah juga didorong oleh melemahnya indeks dolar AS di akhir pekan. Pelemahan ini dipicu oleh data manufaktur AS yang berada di bawah ekspektasi serta langkah Bank of Japan (BoJ) yang melakukan intervensi untuk menguatkan yen pada Jumat (1/5).
Namun, Lukman Leong memperingatkan bahwa penguatan rupiah mungkin akan terbatas. Investor saat ini tengah menantikan rilis data ekonomi domestik penting, yakni data perdagangan dan angka inflasi Indonesia. “Inflasi Year on Year (YoY) Indonesia diperkirakan turun ke level 3,0 persen dari sebelumnya 3,48 persen, dengan surplus perdagangan diprediksi berada di angka 4 miliar dolar AS,” ungkap Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp17.250 hingga Rp17.400 per dolar AS sepanjang hari ini.
Analisis Redaksi Asatunews Intelijen: Katalis Kunci
Kekuatan rupiah di level Rp17.337 mencerminkan adanya tarik-menarik antara sentimen global yang membaik dan antisipasi domestik yang tinggi. Inisiatif “Proyek Kebebasan” oleh Donald Trump adalah katalis kunci yang menurunkan harga minyak dunia secara psikologis, sehingga beban impor migas Indonesia diharapkan berkurang. Namun, penurunan indeks dolar AS yang dipicu oleh intervensi Bank of Japan (BoJ) menunjukkan bahwa pasar saat ini sedang dalam kondisi volatilitas tinggi akibat perang mata uang terselubung.
Fokus utama pasar hari ini bukan hanya pada geopolitik, melainkan pada rilis data inflasi YoY Indonesia. Jika inflasi benar-benar melandai ke 3,0 persen dengan surplus perdagangan yang mencapai $4 miliar, maka rupiah memiliki landasan fundamental yang kuat untuk terapresiasi menuju kisaran Rp17.250. Tanpa sokongan data domestik yang positif, rupiah akan sulit lepas dari tekanan dolar AS meskipun tensi di Selat Hormuz mereda. *****
