Wall Street ditutup variatif Kamis (2/4/2026). Trump ancam serangan militer keras ke Iran, picu harga minyak WTI melonjak 11% ke US$111,50.
NEW YORK, ASATUNEWS.BIZ.ID – Bursa saham Amerika Serikat menutup pekan pendek menjelang libur Good Friday dengan posisi beragam pada perdagangan Kamis (2/4/2026). Meski indeks utama sempat tertekan oleh retorika keras Presiden Donald Trump terhadap Iran, reli di menit-menit terakhir berhasil menyelamatkan wajah Wall Street.
Dikutip dari Investopedia, indeks Nasdaq yang sarat teknologi menguat 0,2% dan S&P 500 naik tipis 0,1%. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,1%, memutus tren penguatan tiga hari beruntun. Meski variatif di akhir pekan, ketiga indeks sukses mematahkan tren penurunan lima minggu berturut-turut dengan kenaikan mingguan masing-masing sebesar 4,4% (Nasdaq), 3,4% (S&P 500), dan 3,0% (Dow).
Pasar sempat diliputi optimisme setelah muncul laporan bahwa Iran sedang menyusun protokol dengan Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, suasana berubah mencekam setelah Presiden Donald Trump dalam pidato nasionalnya menyatakan akan memukul Iran “sangat keras.”
“Dalam dua hingga tiga minggu ke depan, kami akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu (Stone Ages), tempat di mana mereka seharusnya berada,” tegas Trump dalam pidatonya, dikutip dari Investopedia.
Merespons komentar agresif tersebut, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 11% ke level US$111,50 per barel, setelah sempat menyentuh US$114—level tertinggi sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu. Minyak Brent juga menetap di atas US$109 per barel.
Lonjakan biaya bahan bakar ini langsung memukul saham sektor penerbangan dan kapal pesiar. Delta Air Lines (DAL), United Airlines (UAL), dan Carnival Corp (CCL) merosot antara 1% hingga 3,5%. Sementara itu, Tesla (TSLA) menjadi pecundang terbesar di S&P 500 dengan anjlok 5,5% akibat laporan pengiriman kuartalan yang buruk.
Di sisi lain, saham Globalstar (GSAT) meroket 13% menyusul rumor akuisisi oleh Amazon, sedangkan harga emas terkoreksi 2,5% ke level US$4.695 per ons.
Analisis Redaksi Asatunews Intelijen: Hancurkan Pasar
Retorika “Zaman Batu” yang dilontarkan Donald Trump menghancurkan ekspektasi pasar akan deeskalasi cepat yang sempat muncul sehari sebelumnya. Lonjakan harga minyak WTI sebesar 11% dalam satu sesi adalah peringatan keras bahwa inflasi energi global akan kembali menghantui kebijakan moneter The Fed.
Bagi Indonesia, situasi ini adalah “pedang bermata dua”. Di satu sisi, kenaikan harga komoditas energi bisa menguntungkan emiten migas dan batubara domestik, namun di sisi lain, jika Rupiah terus tertekan di atas Rp16.900 dan harga minyak dunia bertahan di atas US$110, beban subsidi BBM dalam APBN akan berada pada titik nadir. Investor disarankan memperhatikan rilis data tenaga kerja AS (March jobs report) besok pagi, yang meskipun pasar tutup, akan menentukan arah pembukaan bursa di hari Senin. *****
