Harga emas dekati bear market dengan penurunan 20% dari puncak Januari 2026. Simak analisis korelasi emas, Bitcoin, dan pengaruh likuiditas M2 global.
NEW YORK, ASATUNEWS.BIZ.ID – Pergerakan harga emas dunia kini mendekati zona technical bear market setelah mencatatkan penurunan hampir 20% dari rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) pada Januari lalu. Performa ini mengejutkan banyak pihak karena emas selama ini dianggap sebagai aset lindung nilai (hedge) utama terhadap ketidakpastian geopolitik.
Meskipun ketegangan di Timur Tengah terus meningkat, harga emas justru merosot sekitar 10% sejak perang pecah pada akhir Februari 2026. Fenomena ini menantang narasi tradisional emas sebagai penyimpan nilai di tengah krisis.
Pasar saat ini tengah melakukan penyesuaian ulang terhadap prospek suku bunga. Harapan akan pemangkasan suku bunga kini memudar, dengan kebijakan moneter yang diperkirakan akan tetap restriktif hingga Desember 2026. Di sisi lain, lonjakan harga minyak akibat risiko geopolitik menambah tekanan pada inflasi, memperkuat lingkungan suku bunga tinggi yang menjadi hambatan utama bagi harga emas.
Namun, jika disesuaikan dengan suplai uang M2 (termasuk uang tunai dan deposito), emas saat ini diperdagangkan mendekati level puncak historis tahun 1974 dan 2011. Hal ini menunjukkan kemungkinan emas sedang membentuk lantai siklus relatif terhadap likuiditas global.
Berbeda dengan emas, Bitcoin relatif terhadap M2 masih berada dalam fase konsolidasi yang mirip dengan pola tahun 2024. Meskipun Bitcoin masih berada sekitar 40% di bawah rekor tertingginya pada Oktober lalu, aset kripto ini tengah menguji kembali level tertinggi tahun 2021 dalam basis penyesuaian likuiditas.
Menariknya, emas mulai menunjukkan korelasi positif dengan pasar kripto setelah mengalami penurunan tajam dari level US$5.000 pada Rabu lalu. Sejak saat itu, pergerakan harga emas terpantau bergerak beriringan dengan Bitcoin, setelah sebelumnya sempat bergerak divergen.
Sumber: CoinDesk
