Irak pangkas produksi minyak Basra hingga 70% di tengah blokade Selat Hormuz. Harga Brent melonjak ke US$112 per barel akibat konflik regional yang kian memanas.
BAGHDAD, ASATUNEWS.BIZ.ID – Irak secara resmi memangkas produksi minyak di ladang-ladang Basra sebesar kurang lebih 70 persen, menyusul penghentian ekspor minyak mentah dari pelabuhan-pelabuhan selatan. Langkah drastis ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan regional yang melumpuhkan jalur perdagangan energi dunia.
Wakil Menteri Minyak Irak, Hayyan Abdul Ghani, mengonfirmasi bahwa output produksi merosot tajam dari semula 3,3 juta barel per hari menjadi hanya sekitar 900.000 barel per hari. Saat ini, sisa produksi minyak mentah tersebut dialihkan hanya untuk mengoperasikan kilang-kilang domestik di dalam negeri.
Pemangkasan produksi ini terjadi seiring dengan meningkatnya risiko pelayaran di Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut kini dilaporkan mengalami gangguan parah dengan ratusan kapal terdampar di kedua sisi selat akibat kekhawatiran keamanan. Sebagai antisipasi, perusahaan North Oil Irak mengumumkan dimulainya kembali ekspor melalui pelabuhan Ceyhan di Turki setelah sempat terhenti sejak 2023.
Situasi keamanan semakin genting setelah Iran mengumumkan pembatasan navigasi di Selat Hormuz sejak 2 Maret lalu, serta memberikan peringatan keras akan menargetkan kapal-kapal yang melintas tanpa koordinasi. Sekitar 20 juta barel minyak yang biasanya melintasi jalur ini setiap hari kini terhambat, memicu lonjakan biaya pengiriman dan asuransi global.
Eskalasi di Timur Tengah mencapai titik didih sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan sekitar 1.300 orang termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran telah membalas dengan rentetan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Akibat guncangan ini, harga minyak mentah Brent melonjak 4% ke level US$112,4 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik ke US$98,35.
Sumber: Anadolu Agency
