Harga emas dunia stagnan di level US$5.100 meski tensi perang Iran meningkat. Simak analisis mengapa investor lebih memilih Dolar AS dan tunai dibanding emas.
LONDON, ASATUNEWS.BIZ.ID – Harga emas dunia terpantau kesulitan melanjutkan tren penguatannya meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat. Fenomena ini tergolong unik, mengingat biasanya emas meledak saat terjadi konflik besar. Namun, kali ini investor tampak lebih memprioritaskan likuiditas dan aset dengan imbal hasil (yield) tinggi sambil menanti kejelasan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Pada awal pecahnya perang Iran, harga emas sempat melonjak melewati level US$5.400 per ons, sebelum akhirnya terkoreksi kembali ke level kisaran US$5.100 per ons. Di sisi lain, pasar energi justru mengalami volatilitas ekstrem dengan harga minyak mentah Brent yang sempat menyentuh US$119,50 per barel, level tertinggi sejak 2022.
Thorsten Polleit, profesor ekonomi dari Universitas Bayreuth, menjelaskan bahwa preferensi investor terhadap likuiditas menjadi penghambat utama kenaikan emas. Di tengah kekhawatiran pengetatan kredit dan utang global yang menembus US$310 triliun, investor lebih memilih memegang uang tunai.
“Isu utamanya adalah likuiditas. Investor berbondong-bondong memburu dolar AS, euro, dan mata uang lainnya daripada emas karena mereka membutuhkan uang tunai untuk memenuhi kewajiban pembayaran,” ujar Polleit.
Strategis komoditas di ING, Ewa Manthey, menambahkan bahwa latar belakang makroekonomi saat ini tidak mendukung reli emas. Kuatnya indeks dolar AS—yang naik lebih dari 2% sejak konflik dimulai—serta tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) memegang aset tanpa bunga seperti emas.
“Selama pasar masih tidak pasti mengenai waktu dan langkah pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed), faktor-faktor ini akan terus menekan harga emas,” kata Manthey.
Meski dalam jangka pendek tertekan, para analis optimis terhadap prospek jangka panjang. Permintaan struktural dari bank sentral dunia, yang membeli lebih dari 1.000 metrik ton emas per tahun, tetap menjadi penyangga kuat bagi harga logam mulia.
Polleit memprediksi dalam 12 hingga 24 bulan ke depan, harga emas dan perak akan jauh lebih tinggi dari level saat ini seiring menurunnya kepercayaan terhadap mata uang fiat. Dalam skenario bullish, emas diprediksi bisa naik 10% hingga 20% dalam 18 bulan ke depan, berpotensi mencapai level US$5.500 hingga US$6.000 per ons.
Sumber: Anadolu Agency
Strategi Portofolio 2026: Pilih Emas atau Tunai? Panduan Navigasi Aset di Tengah Krisis Timur Tengah
Menghadapi situasi geopolitik yang memanas antara AS-Israel dan Iran, investor global kini terjebak dalam dilema klasik: mengamankan aset di logam mulia (emas) atau memegang uang tunai (cash).
Meskipun emas secara historis adalah safe haven, data terbaru menunjukkan bahwa likuiditas dolar AS justru menjadi incaran utama. Berikut adalah panduan strategi alokasi aset yang bisa Bapak terapkan untuk menjaga nilai kekayaan di tengah volatilitas:
1. Prioritas Likuiditas: “Cash is King”
Dalam kondisi perang yang memicu lonjakan harga energi, inflasi bisa naik mendadak. Memiliki dana tunai (atau aset setara kas seperti RDPU) sangat penting untuk:
-
Memenuhi Kewajiban: Memastikan operasional bisnis dan kebutuhan rumah tangga tetap aman jika terjadi gangguan sistem pembayaran.
-
Amunisi “Buy the Dip”: Memiliki dana segar saat IHSG atau aset kripto terkoreksi tajam hingga ke level support kuat (seperti IHSG di level 6.745).
2. Emas Sebagai Asuransi, Bukan Spekulasi
Meski harga emas saat ini stagnan di kisaran US$5.100, jangan abaikan peran emas sebagai pelindung nilai jangka panjang. Para analis memprediksi potensi kenaikan hingga US$6.000 jika kepercayaan terhadap mata uang fiat merosot.
-
Saran Alokasi: Pertahankan 10-15% portofolio pada emas fisik atau emas digital bersertifikat. Penurunan harga harian (seperti di Galeri 24 hari ini) adalah kesempatan untuk cicil beli (averaging down).
3. Manfaatkan Suku Bunga Tinggi
Dengan prediksi BI Rate yang tetap di level 4,75% dan kebijakan moneter global yang ketat, instrumen berpendapatan tetap (fixed income) menjadi sangat menarik.
-
Opsi: Obligasi negara atau deposito jangka pendek menawarkan imbal hasil yang lebih pasti dibandingkan pasar saham yang sedang risk-off.
4. Waspada Sektor Energi & Perbankan
Pantau saham-saham yang masuk radar rekomendasi seperti BBCA (stabilitas) dan TINS (komoditas). Namun, batasi eksposur pada sektor properti yang sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah.
