Moody’s sebut resesi AS sulit dihindari jika harga minyak tetap tinggi akibat penutupan Selat Hormuz. Simak analisis Mark Zandi mengenai ancaman inflasi dan PDB AS.
NEW YORK, ASATUNEWS.BIZ.ID – Kepala Ekonom Moody’s, Mark Zandi, memberikan peringatan keras bahwa prospek ekonomi Amerika Serikat (AS) akan terus memburuk selama Selat Hormuz masih tertutup bagi lalu lintas tanker minyak. Menurutnya, jika situasi ini tidak berubah dalam beberapa minggu ke depan, resesi ekonomi di negara adidaya tersebut menjadi sulit untuk dihindari.
Zandi mengungkapkan bahwa sebelum konflik Iran pecah, indikator berbasis machine learning milik Moody’s sudah mencatat probabilitas resesi sebesar 49% dalam 12 bulan ke depan. Dengan eskalasi terbaru, ia memperkirakan probabilitas tersebut akan melonjak melampaui angka 50% pada pembacaan berikutnya.
Ekonomi AS sejatinya sudah menunjukkan tanda-tanda ketegangan sebelum serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu yang memicu lonjakan harga minyak. Data resmi menunjukkan pertumbuhan PDB kuartal keempat tahun 2025 hanya berada di angka 0,7%. Pelemahan angka tenaga kerja juga menjadi kontributor utama memburuknya prospek ekonomi Negeri Paman Sam.
“Resesi sekali lagi menjadi ancaman serius,” tulis Zandi melalui unggahannya di platform X. Konflik dengan Iran disebut memperparah masalah yang ada dengan menghantam konsumen Amerika—yang sudah lelah dengan harga tinggi—lewat gelombang inflasi baru.
Zandi menunjukkan fakta historis bahwa setiap resesi di AS sejak Perang Dunia II—kecuali resesi singkat akibat pandemi COVID-19—selalu didahului oleh lonjakan harga minyak. Berbeda dengan tahun 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina, saat ini AS tidak memiliki “bantalan” pertumbuhan ekonomi yang kuat untuk meredam guncangan biaya pinjaman yang tinggi.
Meskipun saat ini AS memproduksi minyak dan gas alam hampir sebanyak yang dikonsumsinya, Zandi menegaskan bahwa konsumen tetap akan terpukul “keras dan cepat” oleh lonjakan harga energi yang mendadak.
Menariknya, meskipun ancaman resesi nyata, pasar saham tampaknya belum sepenuhnya memperhitungkan (pricing-in) risiko tersebut. Indeks S&P 500 naik 1% pada hari Senin ke level 6.699,38, mencatat kenaikan satu hari terbesar sejak awal Februari. Dow Jones Industrial Average dan Nasdaq Composite juga terpantau menguat di tengah ketidakpastian makro tersebut.
Sumber: MarketWatch
