Analis Blockforce Capital sebut Bitcoin masuki fase akhir penurunan. Simak zona akumulasi ideal antara US$45.000 hingga US$60.000 dan data MVRV Z-Score terbaru.
NEWYORK, ASATUNEWS.BIZ.ID – Setelah kehilangan hampir separuh nilainya sejak Oktober lalu, Bitcoin (BTC) kini diperkirakan tengah memasuki fase akhir dari tren penurunan (downturn). Sejumlah indikator historis menunjukkan bahwa aset kripto terbesar ini sedang mendekati zona “dasar” (bottoming zone) yang berpotensi memicu pembalikan arah.
Brett Munster, pengelola dana dari Blockforce Capital, mengungkapkan bahwa meskipun harga Bitcoin sempat menyentuh angka US$73.800 baru-baru ini, data on-chain menunjukkan adanya peluang asimetris bagi investor jangka panjang. Menurut pengamatannya terhadap empat metrik utama, Bitcoin kini berada dalam wilayah yang sangat mendekati titik terendahnya.
Salah satu indikator yang paling disorot adalah MVRV Z-Score, yang mengukur apakah Bitcoin diperdagangkan di atas atau di bawah biaya dasar on-chain. Saat ini, skor tersebut berada di angka 0,38—di bawah ambang batas 0,4 yang secara historis menandakan bahwa aset sedang dalam kondisi undervalued (murah).
“Mayoritas penurunan tampaknya sudah berada di belakang kita, dan asimetri kini mulai bergeser ke arah atas,” ujar Munster dalam laporannya. Ia memprediksi potensi titik balik pasar bisa terjadi sekitar pertengahan tahun 2026.
Meskipun indikator pertama sudah menyala, tiga metrik lainnya masih berada sedikit di bawah harga pasar saat ini:
-
Realized Price: Rata-rata harga pergerakan terakhir di rantai blok berada di kisaran US$54.000.
-
200-Week Moving Average: Level support historis yang kuat saat ini berada di sekitar US$58.000.
-
Pola Drawdown: Berdasarkan siklus sebelumnya, Munster memperkirakan titik dasar probabilitas tinggi berada di antara US$45.000 hingga US$60.000.
Meski harga saat ini masih berada di atas zona tersebut, Munster menyarankan investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap (scale in) daripada menunggu titik terbawah yang sempurna. Ia merujuk pada pengalaman pasar bearish sebelumnya, di mana selisih harga beli di titik rendah tidak akan signifikan bagi pemegang aset jangka panjang.
Optimisme ini didukung oleh data Bloomberg yang menunjukkan aliran dana masuk kembali ke ETF Bitcoin spot di AS. Dalam sebulan terakhir, lebih dari US$1,6 miliar telah masuk ke dana kelolaan seperti IBIT milik BlackRock dan HODL milik VanEck.
“Begitu tekanan jual memudar, aliran masuk dana yang moderat sekalipun akan mampu menggerakkan pasar dengan signifikan,” tambah Munster. Bitcoin sendiri tercatat sempat anjlok dari puncaknya di atas US$126.000 pada awal Oktober lalu akibat kepanikan pasar retail.
PANDUAN INVESTASI: Cara Menggunakan Strategi DCA di Zona Akumulasi Bitcoin US$45.000 – US$60.000
Menanggapi laporan terbaru mengenai Bitcoin yang mulai memasuki fase bottoming (titik terendah), investor cerdas kini mulai melirik strategi Dollar Cost Averaging (DCA). Mengapa? Karena mencoba menebak angka terendah secara presisi hampir mustahil dilakukan, bahkan oleh institusi besar sekalipun.
Berikut adalah langkah-langkah praktis melakukan DCA secara profesional:
1. Tentukan “Amunisi” Bulanan
Jangan gunakan uang panas. Tentukan jumlah tetap yang sanggup Anda investasikan setiap minggu atau setiap bulan (misalnya Rp1.000.000/bulan). Strategi ini menghilangkan faktor emosional saat harga sedang bergejolak.
2. Bagi Pembelian di Zona Probabilitas
Berdasarkan metrik Blockforce Capital, zona beli ideal berada di US$45.000 hingga US$60.000.
-
Jika harga di atas US$70.000: Tetap beli dalam jumlah kecil.
-
Jika harga masuk ke US$55.000: Tambah porsi pembelian (misal 2x lipat dari biasanya).
-
Jika menyentuh US$45.000: Ini adalah area akumulasi maksimal.
3. Disiplin Tanpa Peduli Berita Buruk
Tujuan DCA adalah menurunkan Average Price (harga rata-rata) pembelian Anda. Saat pasar dipenuhi ketakutan (FUD), itulah saat terbaik di mana setiap Rupiah Anda mendapatkan lebih banyak satuan Bitcoin.
4. Gunakan Fitur Auto-Invest
Banyak bursa kripto (Exchange) kini menyediakan fitur Auto-Buy. Ini sangat disarankan agar investasi Anda berjalan otomatis tanpa perlu Anda pantau setiap hari, menjaga psikologi Anda tetap stabil.
Sumber: BLOOMBERG
