Model ekonomi China yang fokus pada ketahanan produksi kini menantang dominasi finansial AS. Simak analisis strategi “Smart Authoritarianism” dan klaster industri China.
SINGAPURA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Kebangkitan ekonomi China telah memaksa dunia untuk memikirkan kembali asumsi lama tentang inovasi dan kompetisi global. Di tengah fragmentasi geopolitik, model ekonomi China yang mengutamakan ketahanan produksi (production-anchored growth) terbukti menjadi tantangan serius bagi model pertumbuhan berbasis finansial (finance-anchored growth) yang dianut Amerika Serikat.
Selama beberapa dekade, Barat percaya bahwa inovasi berkelanjutan memerlukan demokrasi liberal dan efisiensi finansial. Namun, China mematahkan premis tersebut melalui strategi “Smart Authoritarianism”. Profesor Jennifer Lind dari Dartmouth College mencatat bahwa China berhasil membuktikan sistem otoriter tidak menghalangi inovasi di garda depan (frontier innovation).
Berbeda dengan AS yang mengejar efisiensi modal dan strategi asset-light, China lebih memilih membangun ekosistem industri yang padat. Menurut Prof. Arthur Kroeber dari NYU, China tidak fokus pada maksimalisasi keuntungan jangka pendek atau pengembalian modal (return on investment) kuartalan. Sebaliknya, Beijing berinvestasi besar-besaran pada kedalaman produksi dan penguasaan rantai pasok.
Strategi ini terlihat jelas dalam program “Made in China 2025”. China kini mendominasi teknologi hijau global, mulai dari panel surya, baterai, hingga kendaraan listrik (EV). Di kota-kota seperti Shenzhen dan Shanghai, klaster industri yang padat memungkinkan transfer pengetahuan berjalan cepat dan skala produksi meningkat dalam waktu singkat.
Model China memang memiliki biaya besar, termasuk kelebihan kapasitas (overcapacity), duplikasi, dan inefisiensi. Namun, bagi Beijing, pemborosan ini dianggap sebagai biaya untuk membangun ketahanan. China lebih memilih memiliki kapasitas produksi yang berlebih daripada bergantung pada impor dari Barat.
Sebaliknya, ketergantungan AS pada efisiensi finansial menyebabkan banyak ekosistem manufakturnya pindah ke luar negeri demi biaya rendah dan margin tinggi. Meski AS masih memimpin dalam desain chip canggih dan perangkat lunak, kedalaman manufaktur domestiknya telah menipis. Hal ini menimbulkan dilema reshoring (pemindahan kembali pabrik ke dalam negeri), karena infrastruktur industri tidak bisa dibangun dalam semalam hanya dengan tarif atau kebijakan pajak.
Menariknya, kekuatan China saat ini telah diprediksi oleh mendiang Lee Kuan Yew pada tahun 1991. Beliau melihat bahwa pasar domestik China yang luas akan melahirkan perusahaan-perusahaan yang sangat kompetitif. Prediksi tersebut kini menjadi kenyataan dengan munculnya raksasa global seperti BYD dan CATL yang mampu menggoyang pemain mapan di AS, Eropa, dan Jepang.
Di era baru ini, skala finansial mungkin kalah penting dibandingkan ketahanan fisik. Persaingan global abad ke-21 tampaknya tidak lagi hanya ditentukan oleh laporan laba rugi, melainkan oleh kedalaman ekosistem industri yang mampu bertahan dari guncangan eksternal.
Sumber: Businesstimes
