Analisis potensi perubahan harga BBM per 1 Maret 2026 di Indonesia menyusul kenaikan harga minyak dunia. Cek proyeksi selengkapnya di Asatunews Biz ID.
ASATUNEWS.BIZ.ID – Pergerakan harga minyak mentah dunia (Brent dan WTI) yang cenderung menguat di level USD 78 – USD 82 per barel pada akhir Februari 2026 mulai memicu spekulasi di tengah masyarakat. Pertanyaan besarnya: apakah pemerintah dan penyedia BBM swasta akan melakukan penyesuaian harga pada 1 Maret mendatang?
Sebagaimana diketahui, penyesuaian harga BBM non-subsidi (seperti Pertamax, Dexlite, hingga Shell dan BP) biasanya dilakukan setiap awal bulan berdasarkan rata-rata harga minyak dunia dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS pada periode bulan sebelumnya.
Melihat tren harga minyak yang menguat tipis menyusul sentimen positif dari pasar Amerika Serikat dan Asia, ada potensi tekanan pada harga BBM nonsubsidi. Namun, beberapa faktor berikut akan menjadi penentu:
-
Rata-Rata Harga MOPS: Pemerintah menggunakan indeks Means of Platts Singapore (MOPS) sebagai acuan. Jika rata-rata MOPS sepanjang Februari tetap tinggi, peluang kenaikan harga terbuka lebar.
-
Nilai Tukar Rupiah: Saat ini Rupiah terpantau dinamis. Jika kurs Rupiah mampu menguat terhadap Dolar AS, maka dampak kenaikan harga minyak dunia bisa diredam, sehingga harga BBM bisa tetap stabil.
-
Kebijakan Subsidi: Untuk BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar, keputusan harga sepenuhnya berada di tangan pemerintah dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat dan beban APBN.
Sejumlah analis energi memprediksi bahwa untuk periode Maret 2026, harga BBM nonsubsidi kemungkinan besar akan mengalami penyesuaian tipis atau bahkan tetap stabil (flat) jika pemerintah memutuskan untuk menjaga inflasi menjelang bulan Ramadhan.
Bagi masyarakat, disarankan untuk tetap memantau pengumuman resmi dari Pertamina maupun operator swasta pada malam pergantian bulan untuk memastikan harga terbaru di SPBU. ****
