Konflik Selat Hormuz 2026 picu krisis energi global. Simak strategi Cina amankan minyak lewat Yuan dan dampaknya terhadap harga emas, saham, serta inflasi AS.
TOKYO, ASATUNEWS.BIZ.ID – Selat Hormuz kembali menjadi titik paling krusial bagi pasar modal global seiring memanasnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di jalur energi tersebut. Meski risiko keamanan dan biaya asuransi pengiriman bagi kapal-kapal Barat melonjak tajam, pasokan minyak masif dilaporkan tetap mengalir lancar menuju Cina tanpa gangguan berarti.
Berdasarkan data Maret 2026, Iran tercatat telah mengirimkan sedikitnya 11,7 juta barel minyak dalam waktu singkat ke Cina. Fenomena “jalur khusus” ini terjadi berkat hubungan transaksional strategis berdurasi 25 tahun senilai US$400 miliar antara Teheran dan Beijing. Cina kini menjadi buyer of last resort bagi minyak Iran dengan sistem pembayaran menggunakan Yuan (CNY) guna menghindari pengawasan sistem Dollar (SWIFT).
Keberhasilan Cina mengamankan energi juga didukung oleh pemanfaatan Dark Fleet—ratusan tanker tua yang mematikan sistem pelacakan otomatis (AIS). Selain itu, investasi Iran pada Terminal Minyak Jask yang terletak di luar Selat Hormuz memungkinkan ekspor hingga 1 juta barel per hari melalui pipa Goreh-Jask tanpa harus melewati selat yang rawan konflik tersebut.
Kondisi ini memberikan keuntungan ekonomi ganda bagi Beijing, di mana Cina mendapatkan diskon harga minyak US$5 hingga US$10 di bawah harga Brent, sekaligus menjaga cadangan minyak nasional di level aman 1,2 miliar barel.
Di sisi lain, Amerika Serikat menghadapi tantangan berat berupa ancaman stagflasi—pertumbuhan ekonomi yang stagnan disertai inflasi tinggi. Jika harga minyak dunia bertahan di atas US$100-US$120 per barel, Federal Reserve (The Fed) diprediksi akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi cadangan minyak strategis (SPR) AS yang menipis pada 2026 membuat ekonomi Negeri Paman Sam semakin rentan terhadap lonjakan harga bensin. Pergeseran kekuatan ini juga mulai menantang hegemoni Dollar AS atas komoditas dunia seiring meningkatnya penggunaan Yuan dalam transaksi energi.
Krisis di Selat Hormuz menciptakan pemenang dan pecundang di pasar global:
-
Emas & Perak: Menjadi aset safe haven utama dengan sentimen sangat positif.
-
Saham Energi (XOM, CVX, OXY): Diuntungkan oleh lonjakan margin laba saat harga Brent di atas US$100.
-
Saham Teknologi (Nasdaq): Berisiko negatif akibat sensitivitas terhadap suku bunga tinggi.
-
Logistik (FDX): Terdampak sangat negatif akibat kenaikan biaya bahan bakar dan premi asuransi hingga 300%.
Para analis menyarankan investor untuk melakukan diversifikasi dengan menjadikan emas sebagai jangkar portofolio dan melirik saham-saham manufaktur Cina yang memiliki resiliensi energi lebih baik dibanding Eropa atau Jepang.
Daftar Saham Energi BEI yang Diuntungkan dari Eskalasi Selat Hormuz 2026
Krisis di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada raksasa energi global seperti ExxonMobil, tetapi juga memberikan katalis positif bagi emiten migas dan pendukungnya di lantai bursa Indonesia. Dengan ICP yang kini bertengger di US$68,79 dan harga minyak dunia yang fluktuatif di level tinggi, berikut adalah daftar saham yang layak dipantau:
1. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) Sebagai emiten migas swasta terbesar, kinerja MEDC sangat berkorelasi dengan harga minyak mentah. Setiap kenaikan harga minyak memberikan dampak langsung pada pendapatan dan arus kas perusahaan. MEDC juga diuntungkan oleh eksposur aset internasionalnya yang tersebar di wilayah strategis.
2. PT Elnusa Tbk (ELSA) Sebagai penyedia jasa energi terintegrasi, ELSA mendapatkan berkah dari meningkatnya aktivitas eksplorasi dan produksi (E&P) di Indonesia. Saat harga minyak tinggi, perusahaan migas cenderung meningkatkan anggaran untuk servis sumur dan infrastruktur energi.
3. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Emiten yang berfokus pada produksi gas dan minyak bumi ini memiliki sensitivitas tinggi terhadap harga energi. Peningkatan produksi di blok-blok migas mereka berpotensi memaksimalkan laba saat harga jual rata-rata komoditas sedang berada di puncak.
4. Sektor Logistik Pelayaran Energi (WINS & PSSI) Perusahaan penyedia kapal penunjang lepas pantai (OSV) dan pengangkutan energi akan menikmati kenaikan tarif sewa. Gangguan logistik global di Hormuz sering kali memicu kelangkaan kapal tanki, yang berdampak pada penguatan harga sewa kapal di wilayah regional. *****
