Bursa Asia kompak menguat dipimpin Kospi Korsel (5%). Harga minyak dunia jatuh ke level US$88 setelah Trump beri sinyal konflik Iran segera berakhir.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Mayoritas bursa saham di kawasan Asia melesat ke zona hijau pada perdagangan Selasa (10/3/2026). Penguatan ini dipimpin oleh indeks Kospi Korea Selatan yang melonjak tajam hingga 5 persen, menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memberikan sinyal meredanya konflik di Timur Tengah.
Kenaikan signifikan juga terlihat pada indeks Kosdaq untuk saham berkapitalisasi kecil yang naik lebih dari 4 persen. Di wilayah lain, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,66 persen, Topix naik 1,3 persen, dan S&P/ASX 200 Australia menguat 1,35 persen. Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong berada di level 25.370.
Pemulihan pasar global ini dipicu oleh optimisme investor setelah Trump mengklaim bahwa operasi militer AS dan Israel sejak 28 Februari telah mencapai kemajuan signifikan. Trump memberikan sinyal bahwa konflik dengan Iran berpeluang segera berakhir.
“Kami membuat kemajuan besar untuk menyelesaikan tujuan militer kami,” ujar Trump sembilan hari setelah konflik dimulai. Meski tidak merinci target akhir, Trump menekankan bahwa kekuatan Iran telah melemah secara signifikan. Ia bahkan mempertimbangkan untuk mengambil alih kendali atas Selat Hormuz guna mengamankan jalur pelayaran minyak global.
Buntut dari pernyataan tersebut, harga minyak mentah AS (WTI) jatuh 6,49 persen ke level US$88,66 per barel, turun drastis setelah sebelumnya sempat meroket melampaui angka US$100.
Sentimen positif ini lebih dulu dirasakan di bursa saham AS semalam. Indeks S&P 500 naik 0,83 persen, Dow Jones bertambah 0,5 persen, dan Nasdaq Composite melonjak 1,38 persen. Pergerakan ini menandai pembalikan arah (rebound) yang mengesankan, mengingat sebelumnya Dow Jones sempat anjlok hampir 900 poin pada titik terendah sesinya.
Meskipun pasar merespons positif, Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group, mengingatkan bahwa risiko tetap ada. “Dengan 20 persen pasokan minyak dunia yang sempat terhenti (di Selat Hormuz), kita mengalami gangguan terbesar yang pernah ada,” jelasnya.
Analisis: Minyak Dunia Terperosok ke US$88, Emiten Logistik & Transportasi RI Siap Panen “Cuan”
Melandainya harga minyak mentah dunia sebesar 6,49% menjadi US$88 per barel pasca pernyataan Presiden AS Donald Trump memberikan sentimen positif ganda bagi pasar modal Indonesia. Sektor transportasi dan logistik, yang sebelumnya tertekan oleh kekhawatiran biaya operasional, kini berpotensi memimpin penguatan sektoral di IHSG.
Berikut adalah tiga alasan utama mengapa sektor ini menjadi primadona hari ini:
1. Penurunan Beban Operasional (Fuel Cost). Bagi emiten logistik dan transportasi, komponen bahan bakar menyumbang sekitar 30-40% dari total biaya operasional. Penurunan harga minyak global memberikan ruang bagi perusahaan untuk menjaga tarif tetap kompetitif tanpa menggerus margin laba bersih. Emiten pelayaran dan jasa kurir diprediksi akan merespons ini dengan penguatan harga saham.
2. Stabilitas Kurs Rupiah Mendukung Importir BBM. Melandainya harga minyak juga mengurangi tekanan pada cadangan devisa, yang secara tidak langsung memperkuat nilai tukar Rupiah (saat ini di Rp16.894). Rupiah yang stabil sangat menguntungkan emiten transportasi yang memiliki beban utang dalam dolar AS atau mereka yang melakukan pengadaan suku cadang secara impor.
3. Peningkatan Volume Distribusi. Dengan meredanya kekhawatiran krisis energi, aktivitas manufaktur dan ritel diprediksi akan kembali normal. Hal ini akan meningkatkan permintaan jasa distribusi logistik nasional. Emiten seperti ASSA, SMDR, hingga BIRD berpeluang mendapatkan sentimen positif dari ekspektasi kenaikan volume pesanan di kuartal ini. ****
