Harga minyak Brent melonjak ke US$83,49 akibat konflik AS-Iran. Simak dampak ketegangan geopolitik dan gangguan Selat Hormuz terhadap pasokan energi global.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mengancam stabilitas pasokan energi global.
Berdasarkan data Refinitiv pukul 10.00 WIB, harga minyak mentah Brent melonjak ke level US$83,49 per barel, naik dari posisi sehari sebelumnya di US$81,40 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melesat ke level US$76,93 per barel, menguat dari US$74,66 per barel pada perdagangan Rabu.
Kenaikan ini mencerminkan lonjakan harga lebih dari 15 persen hanya dalam waktu sepekan, terhitung sejak akhir Februari lalu.
Kekhawatiran pasar memuncak setelah adanya laporan serangan militer AS terhadap kapal perang Iran di dekat Sri Lanka. Situasi ini meningkatkan risiko gangguan pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang melayani hampir seperlima konsumsi energi dunia.
Sejumlah kapal tanker dilaporkan tertahan di kawasan Teluk akibat meningkatnya risiko keamanan, yang secara langsung menghambat aktivitas distribusi minyak internasional.
Selain faktor konflik, sisi pasokan global kian terjepit setelah Irak—produsen terbesar kedua OPEC—terpaksa memangkas produksi hingga 1,5 juta barel per hari akibat keterbatasan fasilitas penyimpanan dan hambatan jalur ekspor.
Tekanan di sektor energi semakin diperparah oleh langkah Qatar, salah satu eksportir LNG terbesar dunia, yang menghentikan sebagian pengiriman gas setelah memberlakukan kondisi force majeure. Normalisasi produksi gas di Qatar diperkirakan membutuhkan waktu setidaknya satu bulan.
Meskipun sejumlah analis menilai gangguan produksi minyak di kawasan Teluk berpotensi bersifat sementara, pasar tetap waspada. Pemulihan kapasitas produksi penuh diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga pekan setelah logistik kembali normal. Namun, selama tensi geopolitik AS-Iran masih berlangsung, volatilitas harga energi global diprediksi akan tetap tinggi.
Analisis: Harga Minyak Dunia Tembus US$83, Siap-siap Harga BBM Nonsubsidi Terkerek?
Lonjakan harga minyak mentah Brent yang mencapai US$83,49 per barel akibat konflik AS-Iran memberikan tekanan besar bagi kebijakan energi di dalam negeri. Berikut adalah 3 dampak utama yang perlu diwaspadai masyarakat Indonesia:
1. Potensi Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi
Pemerintah dan badan usaha (seperti Pertamina, Shell, dan BP) secara rutin mengevaluasi harga BBM nonsubsidi (Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite) setiap awal bulan berdasarkan rata-rata harga minyak dunia (MOPS).
-
Dampaknya: Jika harga Brent bertahan di atas US$80 sepanjang Maret, kemungkinan besar akan terjadi kenaikan harga BBM nonsubsidi pada periode April mendatang untuk menyeimbangkan biaya produksi.
2. Beban Kompensasi dan Subsidi Membengkak
Meskipun harga BBM subsidi (Pertalite dan BioSolar) ditentukan oleh pemerintah, kenaikan harga minyak dunia membuat selisih antara harga pasar dan harga subsidi semakin lebar.
-
Risikonya: Beban APBN untuk membayar kompensasi kepada badan usaha penyalur akan membengkak. Jika tensi geopolitik berlangsung lama, ruang fiskal pemerintah untuk program pembangunan lainnya bisa tergerus.
3. Efek Domino pada Biaya Logistik dan Inflasi
Minyak adalah komponen biaya utama dalam sektor transportasi dan industri.
-
Skenario: Kenaikan harga energi global akan memicu kenaikan tarif logistik. Jika biaya angkut barang naik, harga kebutuhan pokok di pasar berisiko merangkak naik (inflasi), yang pada akhirnya dapat menurunkan daya beli masyarakat.
Kesimpulan untuk Investor & Pelaku Usaha:
Di tengah volatilitas harga energi, saham-saham di sektor Energi (seperti MEDC, ELSA, AKRA) cenderung mendapatkan sentimen positif, sementara sektor transportasi dan manufaktur mungkin akan menghadapi tekanan pada margin keuntungan. ***
