🔥 CRYPTO UPDATE: 🚀 BITCOIN (BTC): $92.450 (+1,52%) 💎 ETHEREUM (ETH): $3.850 (+0,85%) 🔸 BINANCE (BNB): $615,20 (-0,12%) ☀️ SOLANA (SOL): $185,45 (+2,10%) 💰 BTC/IDR: Rp 1,45 Miliar 📊 SENTIMEN: Extreme Greed (78)
MARKET WATCH
USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
BerandaKOMODITASMinyakKetegangan AS-Iran Memanas, Harga Minyak Brent Melonjak Tembus US$83 per Barel

Ketegangan AS-Iran Memanas, Harga Minyak Brent Melonjak Tembus US$83 per Barel

-

Harga minyak Brent melonjak ke US$83,49 akibat konflik AS-Iran. Simak dampak ketegangan geopolitik dan gangguan Selat Hormuz terhadap pasokan energi global.

JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mengancam stabilitas pasokan energi global.

Berdasarkan data Refinitiv pukul 10.00 WIB, harga minyak mentah Brent melonjak ke level US$83,49 per barel, naik dari posisi sehari sebelumnya di US$81,40 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melesat ke level US$76,93 per barel, menguat dari US$74,66 per barel pada perdagangan Rabu.

Kenaikan ini mencerminkan lonjakan harga lebih dari 15 persen hanya dalam waktu sepekan, terhitung sejak akhir Februari lalu.

Kekhawatiran pasar memuncak setelah adanya laporan serangan militer AS terhadap kapal perang Iran di dekat Sri Lanka. Situasi ini meningkatkan risiko gangguan pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang melayani hampir seperlima konsumsi energi dunia.

Sejumlah kapal tanker dilaporkan tertahan di kawasan Teluk akibat meningkatnya risiko keamanan, yang secara langsung menghambat aktivitas distribusi minyak internasional.

Selain faktor konflik, sisi pasokan global kian terjepit setelah Irak—produsen terbesar kedua OPEC—terpaksa memangkas produksi hingga 1,5 juta barel per hari akibat keterbatasan fasilitas penyimpanan dan hambatan jalur ekspor.

Tekanan di sektor energi semakin diperparah oleh langkah Qatar, salah satu eksportir LNG terbesar dunia, yang menghentikan sebagian pengiriman gas setelah memberlakukan kondisi force majeure. Normalisasi produksi gas di Qatar diperkirakan membutuhkan waktu setidaknya satu bulan.

Meskipun sejumlah analis menilai gangguan produksi minyak di kawasan Teluk berpotensi bersifat sementara, pasar tetap waspada. Pemulihan kapasitas produksi penuh diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga pekan setelah logistik kembali normal. Namun, selama tensi geopolitik AS-Iran masih berlangsung, volatilitas harga energi global diprediksi akan tetap tinggi.

Analisis: Harga Minyak Dunia Tembus US$83, Siap-siap Harga BBM Nonsubsidi Terkerek?

Lonjakan harga minyak mentah Brent yang mencapai US$83,49 per barel akibat konflik AS-Iran memberikan tekanan besar bagi kebijakan energi di dalam negeri. Berikut adalah 3 dampak utama yang perlu diwaspadai masyarakat Indonesia:

1. Potensi Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi

Pemerintah dan badan usaha (seperti Pertamina, Shell, dan BP) secara rutin mengevaluasi harga BBM nonsubsidi (Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite) setiap awal bulan berdasarkan rata-rata harga minyak dunia (MOPS).

  • Dampaknya: Jika harga Brent bertahan di atas US$80 sepanjang Maret, kemungkinan besar akan terjadi kenaikan harga BBM nonsubsidi pada periode April mendatang untuk menyeimbangkan biaya produksi.

2. Beban Kompensasi dan Subsidi Membengkak

Meskipun harga BBM subsidi (Pertalite dan BioSolar) ditentukan oleh pemerintah, kenaikan harga minyak dunia membuat selisih antara harga pasar dan harga subsidi semakin lebar.

  • Risikonya: Beban APBN untuk membayar kompensasi kepada badan usaha penyalur akan membengkak. Jika tensi geopolitik berlangsung lama, ruang fiskal pemerintah untuk program pembangunan lainnya bisa tergerus.

3. Efek Domino pada Biaya Logistik dan Inflasi

Minyak adalah komponen biaya utama dalam sektor transportasi dan industri.

  • Skenario: Kenaikan harga energi global akan memicu kenaikan tarif logistik. Jika biaya angkut barang naik, harga kebutuhan pokok di pasar berisiko merangkak naik (inflasi), yang pada akhirnya dapat menurunkan daya beli masyarakat.

Kesimpulan untuk Investor & Pelaku Usaha:

Di tengah volatilitas harga energi, saham-saham di sektor Energi (seperti MEDC, ELSA, AKRA) cenderung mendapatkan sentimen positif, sementara sektor transportasi dan manufaktur mungkin akan menghadapi tekanan pada margin keuntungan. ***

 

Endang Suherman
Endang Suhermanhttps://asatunews.biz.id
Pusat komando informasi Asatunews.biz.id. Dari fluktuasi Bitcoin di pasar London kami menyaring ribuan informasi global untuk menyajikannya secara ringkas, akurat, dan berintegritas. Berpatokan pada prinsip 'Resilience Over Returns', kami memastikan informasi yang Anda terima adalah amunisi terbaik untuk navigasi di era ketidakpastian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERKINI

Survei BI: Kredit Baru Diprakirakan Naik pada Triwulan IV 2026, SBT Capai 91,31%

Survei Perbankan BI memproyeksikan penyaluran kredit baru naik pada triwulan IV 2026 dengan SBT 91,31%. Pertumbuhan kredit tahunan diperkirakan 8,20%. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penyaluran kredit...

Pasar Global Tertekan, Kekhawatiran Investasi AI dan Konflik Timur Tengah Bayangi Laporan Laba Teknologi

Pasar saham global tertekan pada 22 Oktober 2026. Kekhawatiran pendanaan AI, pelemahan saham teknologi, dan kenaikan minyak di tengah ketegangan Timur Tengah membayangi laporan laba...

Harga Minyak Dunia Melonjak 3%, Serangan ke Ladang Minyak Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan

Harga minyak Brent menembus US$112 per barel setelah serangan di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan dan eskalasi konflik Timur Tengah. Harga minyak mentah dunia melonjak...

Emas Dunia Turun di Bawah US$4.100, Harga Perak Ikut Tertekan Lonjakan Minyak

Harga emas dunia turun di bawah US$4.100 per ounce pada 22 Oktober 2026. Lonjakan minyak memicu kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi. Pasar logam mulia...

Popular

BAMSOETNEWS.COM

Referensi Utama

NAVIGASI
POLITIK &
HUKUM

Menyajikan berita aktual, tajam, dan terpercaya langsung dari jantung kebijakan nasional.

✔ Dinamika Parlemen
✔ Analisis Hukum & Peradilan
✔ Update Ekonomi Nasional
Straight News • Faktual • Objektif