IHSG ditutup melemah 1,89% ke level 7.164 pada Kamis (26/3/2026). Aksi profit taking dan isu geopolitik AS-Iran menyeret saham ASII, TLKM, dan BMRI ke zona merah.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Kamis (26/3/2026). Indeks komposit terkoreksi signifikan sebesar 1,89% ke level 7.164, dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) investor setelah penguatan sehari sebelumnya serta meningkatnya tensi ketidakpastian geopolitik global.
Tim riset Sinarmas Sekuritas menyebutkan bahwa pelaku pasar saat ini tengah mencermati dinamika antara Amerika Serikat dan Iran. Meski AS mengklaim telah mengirimkan proposal perdamaian 15 poin, sikap Iran yang enggan melakukan pembicaraan langsung menambah awan mendung di pasar finansial.
Pelemahan IHSG hari ini didominasi oleh rontoknya saham-saham berkapitalisasi besar (big caps). Tiga emiten unggulan, yakni PT Astra International Tbk. (ASII), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), kompak parkir di zona merah dan menjadi penekan utama indeks.
Data perdagangan menunjukkan 380 saham melemah, sementara 292 saham menguat, dan 148 saham stagnan. Menariknya, di tengah penurunan indeks, aktivitas transaksi justru melonjak tajam mencapai Rp32,35 triliun, naik signifikan dibandingkan hari sebelumnya yang sebesar Rp25,92 triliun.
IHSG tidak sendirian dalam zona merah; bursa saham regional Asia juga kompak melemah. Indeks Hang Seng anjlok 1,89%, Shanghai turun 1,09%, dan Nikkei terkoreksi 0,27%. Namun, ETF Indonesia di pasar global (EIDO) justru menunjukkan anomali dengan menguat 4,7% ke level 15,99.
Dari pasar komoditas, harga energi bergerak variatif. Minyak mentah naik 3,5% ke level **US$94 per barel**, sementara batu bara turun 2,5% ke US$133 per ton. Di sektor logam, emas terkoreksi 1,9% ke level US$4.422 per ounce, berbanding terbalik dengan nikel yang melonjak 2,3%.
Melihat kombinasi tekanan profit taking dan ketidakpastian global, IHSG diperkirakan masih akan dibayangi volatilitas tinggi dalam jangka pendek. Investor disarankan untuk tetap waspada dan menerapkan strategi wait and see sembari memantau perkembangan negosiasi geopolitik yang menjadi katalis utama pasar.
Sumber: Bisnis.com
