Indeks Wall Street melemah (24/3/2026) di tengah rencana AS kirim 3.000 pasukan ke Selat Hormuz. Harga minyak Brent rebound ke US$104 per barel.
NEW YORK, ASATUNEWS.BIZ.ID – Indeks utama bursa saham Amerika Serikat kembali terperosok pada penutupan perdagangan Selasa (24/3/2026). Investor kini tengah menimbang sentimen yang saling bertolak belakang: antara klaim kemajuan negosiasi dengan Iran oleh Presiden Donald Trump dan rencana Pentagon mengerahkan pasukan elite ke Timur Tengah untuk membuka blokade Selat Hormuz.
Indeks Dow Jones Industrial Average (DJI) merosot 0,2%, sementara S&P 500 (GSPC) turun 0,4%. Pelemahan terdalam dialami Nasdaq Composite (IXIC) yang anjlok 0,8%, dipicu oleh rontoknya saham-saham sektor perangkat lunak (software).
Aksi jual di bursa saham semakin kencang pada sore hari setelah laporan dari The Wall Street Journal menyebutkan bahwa AS diperkirakan akan mengirim 3.000 pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 (82nd Airborne Division) ke Timur Tengah. Langkah ini merupakan upaya Pentagon untuk mengamankan dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur distribusi minyak vital yang nyaris lumpuh total sejak perang pecah.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan optimistis kepada wartawan di Gedung Putih. Trump mengklaim bahwa AS sedang menjalin pembicaraan dengan “orang-orang yang tepat” di Iran. “Mereka sangat ingin membuat kesepakatan,” ujar Trump, mengulang pernyataannya pada hari Senin yang menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai langkah “produktif”.
Meskipun sempat turun tajam pada Senin karena harapan deeskalasi, harga minyak dunia kembali melonjak (rebound) sekitar 4% pada Selasa seiring berlanjutnya pertempuran antara Iran dan aliansi AS-Israel.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kini kembali bertengger di atas level US$91 per barel, sementara Brent melonjak mendekati US$104 per barel. Ketidakpastian mengenai keberhasilan negosiasi di tengah persiapan militer besar-besaran membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap risiko gangguan pasokan energi global.
Sumber: Yahoo Finance
