Harga minyak mentah terkoreksi di tengah penantian pengumuman paket sanksi ekonomi AS terhadap Iran serta potensi gangguan pasokan di Selat Hormuz.
Harga minyak mentah dunia bergerak melemah pada perdagangan Senin. Para investor cenderung mengambil sikap wait and see menantikan rincian paket sanksi ekonomi baru dari Amerika Serikat (AS) yang menyasar Iran, yang digambarkan Washington sebagai tindakan ekonomi terkeras yang pernah diberlakukan.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi sekitar 1,3 persen ke posisi 85,93 dolar AS per barel, sementara minyak mentah jenis Brent melorot 1,24 persen menjadi 93,22 dolar AS per barel.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan mengumumkan rincian langkah-langkah sanksi tersebut pada Senin waktu setempat.
“Saat fajar dimulai economic D-Day — serangan finansial terbesar yang pernah dikerahkan melawan musuh,” tulis Bessent melalui platform media sosial X. Ia menegaskan bahwa Washington berupaya melumpuhkan ekonomi Iran melalui sanksi terberat sepanjang sejarah.
Presiden AS Donald Trump turut menegaskan akan memberlakukan operasi ekonomi paling menghancurkan serta mengancam akan mengenakan sanksi berat bagi negara-negara yang membantu Teheran meloloskan diri dari sanksi tersebut.
Menanggapi tekanan tersebut, Teheran secara tegas menolak gertakan Washington. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa Iran memiliki berbagai cara untuk menepis dampak perang ekonomi lawan dan dapat dengan mudah membangun hubungan ekonomi dengan negara-negara mitra.
Sementara itu, analisis dari Commonwealth Bank of Australia (CBA) memproyeksikan harga minyak mentah akan tetap volatil sepanjang semester kedua tahun 2026, dengan perkiraan pergerakan Brent berada di rentang 70 hingga 100 dolar AS per barel.
CBA menambahkan, jika kebijakan AS berhasil mengisolasi Iran, risiko respons balasan di kawasan dapat meningkatkan ketegangan di pasar energi. Sebaliknya, pemulihan parsial arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dapat menekan harga mendekati batas bawah proyeksi akibat bertambahnya pasokan global.
Tajuk Analisis: Eskalasi Geopolitik Energi, Efektivitas Sanksi Ekonomi, dan Prospek Volatilitas Pasar
Koreksi harga minyak mentah di tengah retorika sanksi AS-Iran mencerminkan kerumitan kalkulasi risiko di pasar komoditas energi global saat ini.
Berikut tiga poin analisis utama:
1. Priced-in Pasar terhadap Risiko Geopolitik
Pelemahan tipis harga minyak menunjukkan bahwa sebagian besar risiko gejolak di Selat Hormuz telah diantisipasi (priced-in) oleh pasar sebelumnya. Pelaku pasar kini berfokus pada efektivitas eksekusi sanksi AS serta kemampuan Iran dalam menyalurkan minyaknya melalui jalur-jalur perdagangan alternatif.
2. Kunci Strategis Jalur Logistik Selat Hormuz
Selat Hormuz tetap menjadi variabel paling krusial bagi stabilitas harga energi dunia. Setiap gangguan fisik pada lalu lintas tanki minyak di selat tersebut berpotensi memicu lonjakan harga (price spike), sedangkan kelancaran pasokan akan dengan cepat mengembalikan fokus pasar pada proyeksi surplus minyak global.
3. Tantangan Keseimbangan Moneter dan Inflasi Global
Ketidakpastian harga minyak mentah di rentang 70–100 dolar AS per barel memberikan tantangan tersendiri bagi pengambil kebijakan ekonomi global. Fluktuasi harga energi yang berkepanjangan dapat menahan laju penurunan inflasi di negara-negara pengimpor minyak, yang pada akhirnya memengaruhi respons suku bunga bank sentral dunia. Sumber
