Harga emas dunia anjlok 12% dalam 4 hari, menyentuh level terendah 2 bulan di US$ 4.371. Simak analisis dampak perang Timur Tengah & prospek suku bunga The Fed.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Tren pelemahan harga emas dunia kian mengkhawatirkan. Pada perdagangan Selasa pagi (24/3/2026), harga sang logam mulia di pasar spot tercatat berada di level US$ 4.371,9 per troy ons, melemah 0,82% dibandingkan hari sebelumnya. Penurunan ini memperpanjang catatan merah emas yang telah terkoreksi selama empat hari beruntun dengan total kejatuhan nyaris 12%.
Posisi penutupan kemarin di angka US$ 4.408,1 per troy ons bahkan menjadi titik terendah sejak awal Januari lalu. Anomali terjadi karena emas yang biasanya menjadi aset lindung nilai (safe haven) justru tertekan hebat di tengah meletusnya konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran sejak akhir Februari.
Perang di Timur Tengah telah melumpuhkan arus pelayaran di Selat Hormuz dan merusak berbagai fasilitas minyak di kawasan Teluk. Akibatnya, harga minyak jenis Brent melonjak hampir 45% dalam sebulan terakhir. Kenaikan harga energi ini diprediksi akan memicu inflasi tinggi secara global.
Kondisi tersebut membuat bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat, sulit untuk melonggarkan kebijakan moneter. Prospek pemangkasan suku bunga acuan yang semula diperkirakan terjadi tiga kali tahun ini kini menjadi samar. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), daya tarik emas memudar saat suku bunga tetap tinggi.
Secara teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari menunjukkan emas berada di zona bearish (RSI 26). Namun, indikator Stochastic RSI telah menyentuh angka 0, yang menandakan posisi jenuh jual atau oversold.
Meski tren besar masih tertekan, emas memiliki peluang untuk rebound hari ini setelah melewati pivot point di US$ 4.363 per troy ons. Jika berhasil menguat, emas akan menguji level resisten di kisaran US$ 4.474 hingga US$ 4.528 per troy ons. Sebaliknya, jika pelemahan berlanjut menembus support US$ 4.368, harga berisiko longsor lebih dalam ke area US$ 4.287 per troy ons.
Sumber: Bloomberg Technoz
