Arab Saudi alihkan ekspor minyak ke Laut Merah untuk hindari gangguan Selat Hormuz. Simak strategi Saudi Aramco amankan pasokan energi global Maret 2026.
RIYADH, ASATUNEWS.BIZ.ID — Raksasa energi Arab Saudi, Saudi Aramco, mengambil langkah strategis dengan mengalihkan pengiriman jutaan barel minyak mentah dari Teluk Persia ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Langkah darurat ini dilakukan guna menjaga stabilitas pasokan energi global menyusul terhambatnya jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Data pelacakan kapal tanker menunjukkan ekspor minyak dari pantai barat Arab Saudi meningkat tajam. Hanya dalam empat hari pertama bulan Maret 2026, lima kapal tanker raksasa (Very Large Crude Carrier/VLCC) telah memuat sekitar 10 juta barel minyak dari Pelabuhan Yanbu.
Lonjakan aktivitas ini meningkatkan rata-rata pengiriman dari wilayah tersebut menjadi 2,5 juta barel per hari (bph), naik drastis dibandingkan rata-rata Februari 2026 yang hanya sebesar 786.000 bph.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang melayani seperlima pasokan minyak dunia. Namun, ketegangan keamanan di kawasan tersebut membuat risiko pengiriman dari pelabuhan utama seperti Ras Tanura meningkat tinggi.
Sebagai solusi, Arab Saudi mengoptimalkan infrastruktur pipa Timur-Barat yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur langsung ke pelabuhan Yanbu. Secara teori, pipa ini mampu mengalihkan hingga 5 juta bph, sehingga minyak dapat dikirim ke pasar Asia dan Eropa tanpa harus melewati titik rawan konflik di Selat Hormuz.
Meskipun pengalihan rute membantu mengamankan pasokan, hal ini berdampak pada melonjaknya biaya logistik. Laporan Reuters menyebutkan tarif pengiriman kapal tanker menuju Yanbu naik lebih dari dua kali lipat. Tarif satu kapal tanker besar kini dapat mencapai sekitar US$28 juta atau setara Rp474,3 miliar (asumsi kurs Rp16.939 per dolar AS).
Analis dari JPMorgan Chase menilai kapasitas penyimpanan Arab Saudi yang besar memberi margin keamanan lebih baik dibandingkan produsen Teluk lainnya. Namun, tantangan tetap ada. Pengiriman dari Yanbu menuju pasar Asia tetap harus melintasi Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit lainnya yang juga memiliki risiko keamanan tinggi.
Pengalihan rute ini juga dilakukan untuk menghindari penumpukan stok minyak di fasilitas penyimpanan kawasan Teluk. Jika ekspor terhambat total, produsen minyak terancam harus memangkas produksi karena kapasitas penyimpanan mendekati batas maksimum.
Dengan strategi Laut Merah ini, Arab Saudi berupaya memastikan bahwa arus minyak dari salah satu eksportir terbesar dunia tetap mengalir stabil ke pasar internasional di tengah ketidakpastian geopolitik yang kian memanas.
Analisis: Dampak Pengalihan Jalur Minyak Saudi ke Laut Merah bagi Ketahanan Energi Indonesia
Langkah Arab Saudi mengalihkan ekspor ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah merupakan pedang bermata dua bagi Indonesia. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional, berikut adalah poin-poin krusial yang perlu diperhatikan:
1. Perubahan Estimasi Waktu Kedatangan (ETA)
Pengiriman minyak dari Pelabuhan Yanbu (Pantai Barat Saudi) menuju kilang-kilang di Indonesia (seperti Cilacap atau Balongan) secara geografis memakan waktu lebih lama dibandingkan dari Pelabuhan Ras Tanura (Teluk Persia).
-
Risiko: Kapal harus memutar melewati Samudra Hindia dengan jarak tempuh ekstra. Keterlambatan kedatangan bahan baku kilang dapat mengganggu jadwal produksi BBM nasional jika stok penyangga (buffer stock) tidak dikelola dengan ketat.
2. Lonjakan Biaya Logistik dan Harga Keekonomian
Seperti dilaporkan, biaya sewa kapal tanker (charter rate) ke Yanbu melonjak dua kali lipat hingga menyentuh angka Rp474 miliar per kapal.
-
Dampaknya: Biaya freight (ongkos angkut) yang membengkak ini akan dibebankan pada harga keekonomian minyak mentah yang dibeli oleh Pertamina. Hal ini berpotensi meningkatkan biaya pokok produksi (BPP) BBM di dalam negeri, yang pada akhirnya memberikan tekanan pada beban subsidi APBN.
3. Titik Rawan Baru: Selat Bab el-Mandeb
Meskipun minyak terhindar dari konflik di Selat Hormuz, pengiriman dari Yanbu menuju Indonesia tetap harus melewati Selat Bab el-Mandeb.
-
Analisis: Jalur ini juga merupakan titik rawan keamanan. Jika konflik meluas ke wilayah tersebut, maka jalur alternatif ini pun akan terancam. Indonesia perlu mulai memikirkan diversifikasi sumber impor dari wilayah non-Timur Tengah (seperti Afrika Barat atau Amerika Latin) sebagai cadangan darurat.
4. Keuntungan Infrastruktur Pipa
Sisi positifnya, infrastruktur pipa Timur-Barat Arab Saudi memastikan bahwa pasokan minyak untuk Indonesia tidak terhenti total. Selama pipa tersebut beroperasi, Indonesia tetap memiliki kepastian akses terhadap minyak mentah jenis Arab Light yang menjadi spesifikasi utama banyak kilang di tanah air.
Rekomendasi Strategis untuk Indonesia:
Pemerintah melalui Pertamina perlu segera mengamankan kontrak pengiriman jangka panjang dengan tarif angkutan yang tetap (fixed rate) untuk menghindari fluktuasi biaya logistik yang sedang menggila di pasar spot. *****
