Iran tutup Selat Hormuz usai serangan AS-Israel. Simak dampak ngerinya bagi ekonomi Indonesia, mulai dari lonjakan harga BBM hingga beban APBN Rp515 triliun.
ASATUNEWS.BIZ.ID, JAKARTA – Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) mulai memicu alarm bahaya bagi perekonomian global. Jalur urat nadi energi dunia yang menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan minyak global tersebut kini lumpuh, memicu kekhawatiran krisis ekonomi bagi negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia.
Langkah drastis Teheran ini diambil setelah AS dan Israel melancarkan “Operasi Tempur Besar” yang menyasar ibu kota Teheran di tengah negosiasi program nuklir yang masih berjalan. Dampaknya, harga minyak mentah dunia diprediksi akan melonjak tajam.
Harga Minyak Berpotensi Tembus 120 Dollar AS Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memproyeksikan harga minyak mentah dapat menyentuh angka 100 hingga 120 dollar AS per barel. Selain karena hambatan fisik di Selat Hormuz, kenaikan dipicu oleh enggan-nya perusahaan asuransi menanggung risiko kapal logistik yang melintasi zona konflik.
“Karena kita net importir minyak, maka konsekuensi ke BBM memang besar,” ujar Bhima dalam keterangannya, Minggu (1/3/2026).
Beban Ganda APBN dan Ancaman Subsidi Kenaikan harga minyak ini dipastikan akan memukul Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Berdasarkan simulasi, setiap kenaikan 1 dollar AS di atas asumsi pemerintah akan menambah beban negara sekitar Rp10,3 triliun. Jika harga minyak mencapai 120 dollar AS, potensi tambahan belanja negara untuk subsidi dan kompensasi energi bisa membengkak hingga Rp515 triliun.
“Ada beban ganda langsung ke APBN,” tambah Bhima, merujuk pada tekanan subsidi untuk Pertamina dan listrik.
Rupiah Melemah dan Inflasi Pangan Ketidakpastian geopolitik ini juga memicu fenomena flight to quality, di mana investor memindahkan dana ke aset aman, yang berisiko memperlemah nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah di tengah kenaikan harga energi diprediksi akan memicu imported inflation (inflasi barang impor).
Dampaknya akan terasa langsung pada harga komoditas pangan yang masih bergantung pada impor, seperti gandum, kedelai, dan daging. Bhima memperingatkan bahwa jika konflik ini terus meluas, daya beli masyarakat akan tertekan hebat dan bukan tidak mungkin banyak negara berkembang terjatuh ke dalam krisis ekonomi yang lebih dalam. ****
