Wall Street ditutup memerah pada akhir Februari 2026. Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq tertekan oleh data inflasi PPI yang tinggi serta anjloknya saham teknologi dan perbankan. Simak analisis lengkapnya.
ASATUNEWS.BIZ.ID, NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, ditutup dengan tekanan signifikan pada akhir perdagangan Jumat (27/2/2026). Sektor keuangan dan teknologi menjadi beban utama yang menyeret tiga indeks utama ke zona merah, sekaligus mencatatkan penurunan bulanan terbesar dalam setahun terakhir.
Berdasarkan data perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 521,28 poin atau 1,05% ke level 48.977,92. S&P 500 juga melemah 0,43% ke posisi 6.878,88, sementara Nasdaq Composite jatuh 0,92% menjadi 22.668,21. Penurunan ini menandai pelemahan mingguan terdalam bagi Dow Jones sejak pertengahan November tahun lalu.
Sentimen Inflasi dan Kebijakan The Fed Sentimen pasar memburuk setelah rilis data inflasi produsen (PPI) Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga. Saat ini, pasar memperkirakan peluang sebesar 94,1% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% pada rapat Maret mendatang.
Chief Market Strategist Carson Group, Ryan Detrick, menilai pergerakan ini sebagai pengingat bagi investor bahwa pasar masih memiliki kerentanan, terutama di tengah ketidakpastian biaya disrupsi AI, tarif perdagangan, dan ketegangan geopolitik global.
Sektor Keuangan dan Teknologi Terpukul Sektor keuangan AS mengalami tekanan hebat menyusul laporan potensi kerugian sejumlah bank besar seperti Barclays, Jefferies, dan Wells Fargo akibat runtuhnya penyedia hipotek Inggris, Market Financial Solutions Ltd. Saham ketiga bank tersebut merosot tajam antara 4% hingga 9,3%.
Di sisi lain, euforia kecerdasan buatan (AI) mulai dibayangi kekhawatiran terkait biaya operasional dan monetisasi. Raksasa chip Nvidia turun 4,2%, sementara perusahaan keamanan cloud Zscaler anjlok 12,2% setelah melaporkan kerugian bersih kuartal kedua yang membengkak.
Sektor Defensif Jadi Penopang Meski indeks utama memerah, sektor defensif seperti kesehatan, kebutuhan pokok, dan utilitas berhasil menjadi penahan kejatuhan lebih dalam. Sektor energi juga mencatat penguatan yang didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dunia.
Beberapa saham mencatatkan pergerakan anomali, di antaranya Dell yang melesat 21,9% berkat proyeksi pendapatan server AI, serta Netflix yang melonjak 13,8% setelah membatalkan rencana akuisisi Warner Bros Discovery.
Secara keseluruhan, volume transaksi di bursa AS mencapai 20,85 miliar saham, dengan jumlah saham yang turun mendominasi pasar, menegaskan sentimen risk-off di kalangan investor global menjelang akhir bulan. ****
