IHSG ditutup melemah 1,05 persen ke level 8.235,26 dipicu kekhawatiran kebijakan tarif AS terhadap produk panel surya Indonesia dan rencana penyelidikan USTR.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID — Pada Kamis sore, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren penurunan, dipicu oleh kegelisahan pelaku pasar terkait kebijakan tarif yang dikeluarkan Amerika Serikat (AS).
IHSG menutup hari dengan kontraksi sebesar 86,97 poin atau 1,05 persen, berakhir di level 8.235,26. Seiring dengannya, indeks LQ45 yang memuat 45 saham pilihan pun ikut tertekan, merosot 5,18 poin atau 0,61 persen, mencapai posisi 837,89.
“Kekhawatiran seputar pengenaan tarif menjadi katalis koreksi bagi IHSG sepanjang perdagangan hari Kamis,” ungkap Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas, dalam analisisnya di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Menurut Ratna, sentimen negatif ini bersumber dari kabar bahwa Kementerian Perdagangan AS berencana menerapkan bea impor atas komponen sel dan panel surya yang berasal dari perusahaan-perusahaan di India, Indonesia, dan Laos. Keputusan ini diambil karena industri panel surya dari ketiga negara tersebut dianggap menerima dukungan subsidi yang tidak adil.
AS menetapkan tarif impor sebesar 125,87 persen untuk produk sel dan panel surya dari India, 104,38 persen untuk barang dari Indonesia, dan 80,67 persen untuk kiriman dari Laos.
Di samping penetapan tarif umum tadi, AS juga memberlakukan perhitungan tarif spesifik untuk sejumlah korporasi. Untuk perusahaan di Indonesia, PT Blue Sky Solar dikenakan tarif sebesar 143,3 persen dan PT REC Solar Energy dikenakan 85,99 persen.
Lebih lanjut, United States Trade Representative (USTR) dikabarkan tengah mengagendakan pembukaan investigasi di bawah Pasal 301 terkait praktik perdagangan Indonesia. Investigasi ini akan fokus menguji kebijakan terkait kapasitas industri dan subsidi perikanan yang diterapkan dalam negeri.
Hasil temuan dari investigasi ini akan ditinjau kembali dengan membandingkannya terhadap upaya Indonesia dalam memenuhi komitmen terkait poin-poin yang menjadi atensi AS. Setelah itu, USTR akan menentukan jenis sanksi tarif yang akan dikenakan. AS juga dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan tarif impor dari beberapa negara dari level 10 persen menjadi 15 persen atau lebih tinggi lagi.
Dari sisi pergerakan, IHSG awalnya dibuka dengan kenaikan, namun segera berbalik arah ke zona negatif hingga penutupan sesi pertama transaksi bursa. Pada sesi kedua, indeks gagal bangkit dan tetap berada di zona merah hingga penutupan hari.
Data dari Indeks Sektoral IDX-IC menunjukkan pelemahan merata di kesebelas sektor industri. Sektor transportasi dan logistik mencatatkan penurunan paling signifikan dengan minus 2,60 persen, diikuti oleh sektor barang konsumsi non primer yang melemah 1,98 persen, dan sektor barang baku yang terkoreksi 1,74 persen.
Saham-saham yang mengalami kenaikan harga paling fantastis di antaranya MSKY, JAYA, DIVA, IFSH, dan STAR. Sedangkan untuk saham-saham yang tertekan paling dalam meliputi INDS, SKBM, ARKO, BUVA, dan KONI.
Aktivitas perdagangan tercatat sebanyak 3.102.000 kali transaksi, dengan total volume transaksi mencapai 54,17 miliar unit saham yang diperdagangkan senilai Rp28,08 triliun. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, terdapat 157 saham yang menguat, 594 saham melemah, dan 207 saham tidak mengalami perubahan harga.
Di bursa-bursa kawasan Asia, pergerakan indeks tercatat bervariasi. Indeks Nikkei menunjukkan penguatan sebesar 238,38 poin atau 0,41 persen, ditutup di 58.821,50. Indeks Shanghai sedikit melemah 0,60 poin atau 0,01 persen, berada di 4.146,63. Indeks Hang Seng mengalami koreksi tajam 384,70 poin atau 1,44 persen, berakhir di 26.381,02. Sementara itu, Indeks Kuala Lumpur melemah 6,87 poin atau 0,39 persen ke 1.740,94, dan indeks Strait Times turun 43,35 poin atau 0,87 persen ke level 4.964,38. *****
