IHSG anjlok 4,57% ke level 7.577 pada perdagangan Rabu (4/3/2026). Investor asing tercatat melepas saham BBCA dan BBNI dalam jumlah besar. Cek detailnya!
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Tekanan hebat melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (4/3/2026). Indeks saham domestik terpangkas tajam hingga 362,7 poin atau merosot 4,57 persen ke level 7.577. Seiring dengan kejatuhan tersebut, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) besar-besaran pada sejumlah saham blue chip.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sasaran utama aksi jual asing dengan nilai mencapai Rp573,4 miliar. Langkah ini diikuti oleh saham perbankan besar lainnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang mencatatkan net sell sebesar Rp178,5 miliar.
Selain sektor perbankan, saham di sektor pertambangan dan infrastruktur juga tidak luput dari tekanan jual. Berikut adalah daftar saham dengan nilai jual bersih asing tertinggi:
- ANTM (Aneka Tambang): Rp94,7 miliar
- AMMN (Amman Mineral): Rp80,4 miliar
- BBRI (Bank Rakyat Indonesia): Rp65,3 miliar
- INDF (Indofood Sukses Makmur): Rp40,8 miliar
- BMRI (Bank Mandiri): Rp37,9 miliar
- TLKM (Telkom Indonesia): Rp33,8 miliar
- INCO (Vale Indonesia): Rp33,4 miliar
- INDY (Indika Energy): Rp21,2 miliar
Di tengah aksi jual masif pada saham perbankan, investor asing justru terpantau melakukan aksi beli bersih (net buy) pada sejumlah saham di sektor energi dan pendukung pertambangan.
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memimpin daftar akumulasi asing dengan nilai beli bersih mencapai Rp114,6 miliar. Posisi berikutnya ditempati oleh PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan net buy Rp87,2 miliar, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar Rp72,4 miliar.
Sejumlah saham lain yang juga banyak dikoleksi asing antara lain BRPT (Rp72,1 miliar), DEWA (Rp67,4 miliar), MDKA (Rp50,4 miliar), serta emiten alat berat dan tambang seperti UNTR, MBMA, ITMG, dan MEDC.
Meskipun IHSG mengalami tekanan hebat di hari Rabu, pada perdagangan Kamis pagi (5/3/2026), indeks sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan pembukaan yang menguat tipis seiring dengan penguatan nilai tukar rupiah.
Mengapa Asing Borong Saham Batubara (BUMI, PTBA) Saat IHSG Anjlok?
Ketika IHSG mengalami koreksi tajam hingga 4,57%, terjadi fenomena menarik di mana investor asing justru mengakumulasi saham-saham di sektor energi, khususnya batubara seperti BUMI, PTBA, dan ITMG. Berikut adalah tiga alasan teknis di balik aksi tersebut:
1. Lindung Nilai (Hedging) terhadap Geopolitik. Eskalasi konflik di Timur Tengah sering kali memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Dalam situasi ketidakpastian perang, harga komoditas energi seperti minyak bumi dan batubara cenderung meroket. Investor asing masuk ke saham batubara sebagai bentuk hedging atau perlindungan nilai portofolio mereka dari risiko inflasi energi.
2. Karakteristik “Defensive Stocks” dan Dividen. Saat saham perbankan (BBCA, BBNI) yang sangat sensitif terhadap suku bunga dan makroekonomi dilepas, investor mencari tempat “parkir” dana yang lebih aman. Saham batubara seperti PTBA dan ITMG dikenal sebagai emiten dengan dividend yield (imbal hasil dividen) yang tinggi. Investor cenderung mengoleksi saham ini karena memberikan kepastian pendapatan melalui dividen di tengah pasar yang fluktuatif.
3. Valuasi yang Menarik (Rotasi Sektor). Setelah saham perbankan reli cukup tinggi, harganya menjadi relatif mahal (premium). Penurunan IHSG menjadi momentum bagi investor asing untuk melakukan Profit Taking di saham bank, kemudian memindahkan dananya (Rebalancing) ke sektor energi yang valuasinya dianggap masih murah namun memiliki prospek fundamental yang kuat akibat kenaikan harga komoditas dunia. ****
