IHSG hari ini dibuka menguat ke 8.059 pada Selasa (3/3/2026). Simak analisis dampak konflik Iran-AS, data PMI Manufaktur, dan lonjakan inflasi terhadap pasar saham.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak di zona hijau pada pembukaan perdagangan Selasa (3/3/2026). IHSG dibuka menguat 43,04 poin atau 0,54 persen ke posisi 8.059,87, sementara indeks saham unggulan LQ45 naik 0,64 persen ke level 817,69.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyebutkan bahwa pelaku pasar saat ini tengah menimbang apakah eskalasi konflik di Timur Tengah akan menjadi guncangan jangka pendek atau konflik yang berlarut.
“Kekhawatiran utama pasar adalah gangguan energi dan potensi inflasi baru. Sejarah menunjukkan saham global cenderung pulih cepat pasca konflik, kecuali terjadi lonjakan harga energi yang berkepanjangan,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Konflik militer antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran telah memicu gelombang risk-off global. Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer dapat berlangsung selama 4-5 pekan, sementara Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi. Situasi ini berdampak pada risiko inflasi di Eropa akibat gangguan pengiriman di Teluk, yang membayangi kebijakan bank sentral ECB dan Bank of England.
Di Asia, Bank of Japan (BoJ) memberikan sinyal akan melanjutkan kenaikan suku bunga secara bertahap menuju level netral, di mana saat ini suku bunga berada di angka 0,75 persen.
Dari dalam negeri, terdapat sentimen positif dari data PMI Manufaktur Indonesia yang naik ke level 53,8 pada Februari 2026. Angka ini menandai ekspansi tujuh bulan beruntun dengan pertumbuhan produksi tercepat sejak awal 2024.
Namun, investor juga mencermati rilis data inflasi tahunan Indonesia yang melonjak menjadi 4,76 persen (year on year) pada Februari 2026, naik signifikan dari 3,55 persen pada Januari. Ini merupakan level inflasi tertinggi sejak Maret 2023. Selain itu, surplus neraca perdagangan Januari 2026 tercatat menyusut menjadi 0,95 miliar dollar AS akibat lonjakan impor sebesar 18,21 persen.
Hingga pagi ini, bursa saham regional Asia bergerak variatif. Indeks Nikkei Jepang merosot 2,33 persen, sementara indeks Strait Times Singapura dan Kuala Lumpur terpantau menguat di tengah volatilitas pasar global. ****
