Harga minyak dunia turun setelah stok minyak mentah AS melonjak 16 juta barel. Pasar menanti hasil pembicaraan nuklir AS-Iran yang dapat memengaruhi pasokan global.
LONDON, ASATUNEWS.BIZ.ID — Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada hari Kamis (26/2/2026) seiring terungkapnya data kenaikan terbesar dalam kurun waktu tiga tahun terakhir pada stok minyak mentah Amerika Serikat (AS), di tengah indikasi pelonggaran di pasar fisik minyak global.
Kontrak berjangka minyak Brent Crude tergerus sebesar US$1,05 atau 1,5 persen, mencapai angka US$69,80 per barel pada pukul 12.35 GMT. Sementara itu, futures jenis West Texas Intermediate (WTI) terperosok US$1,26 atau 1,9 persen, menyentuh level US$64,16 per barel.
Informasi yang dirilis oleh Energy Information Administration (EIA) menunjukkan peningkatan signifikan cadangan minyak mentah AS sebesar 16 juta barel pada minggu sebelumnya, yang menjadi pemicu tekanan penurunan harga.
Giovanni Staunovo, seorang analis dari UBS, mengutarakan bahwa melemahnya kondisi pasar fisik minyak di Laut Utara ikut menekan harga. Pasar fisik Laut Utara ini berfungsi sebagai patokan bagi kontrak Brent, yang sepanjang tahun ini telah menguat sekitar 15 persen dipicu oleh kekhawatiran eskalasi ketegangan militer antara AS dan Iran, sekalipun muncul prediksi situasi kelebihan pasokan.
Perhatian pasar kini tertuju pada hasil pertemuan nuklir putaran ketiga antara AS dan Iran yang diagendakan berlangsung hari Kamis ini. Wakil Khusus AS, Steve Witkoff, bersama penasihat Gedung Putih, Jared Kushner, dijadwalkan bertatap muka dengan delegasi Iran di Jenewa.
Sepanjang minggu berjalan, harga Brent sempat mencapai puncak tertinggi sejak 31 Juli lalu pada hari Senin, ketika Washington mengerahkan unit militernya ke kawasan Timur Tengah guna mendesak Iran agar memasuki negosiasi penghentian program nuklir dan rudal balistiknya.
Ketegangan yang terus berlanjut diperkirakan berpotensi mengusik suplai dari Iran, yang merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC, selain eksportir minyak lain di Timur Tengah.
Dari sisi suplai, dilaporkan bahwa Arab Saudi telah meningkatkan produksi dan volume ekspor minyak sebagai persiapan jika terjadi aksi militer AS terhadap Iran yang mungkin mengacaukan pasokan kawasan tersebut.
Di lain pihak, aliansi OPEC+—yang meliputi negara anggota OPEC dan mitra seperti Rusia—dikabarkan sedang mempertimbangkan penambahan produksi sebesar 137.000 barel per hari mulai bulan April mendatang. Langkah ini dipersiapkan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan di musim panas, di tengah kondisi harga yang tergolong kokoh.
Analis dari ING menekankan bahwa hasil dari perundingan nuklir antara AS dan Iran akan menjadi penentu arah pergerakan harga minyak selanjutnya.
“Sebuah kesepakatan yang positif kemungkinan besar akan mendorong pasar untuk secara bertahap menghilangkan premi risiko sebesar US$10 per barel yang saat ini tercermin dalam harga,” demikian tulis analis ING dalam notanya. ****
