Produksi baja kasar dunia terkoreksi 0,3 persen pada Juli 2026 menjadi 149,2 juta ton akibat penurunan output produksi dari produsen utama, China.
Produksi baja kasar (crude steel) dunia mencatatkan penurunan sebesar 0,3 persen menjadi 149,2 juta ton pada Juli 2026. Laporan resmi World Steel Association pada Senin mengonfirmasi bahwa koreksi ini dipicu oleh penurunan output dari produsen terbesar dunia, China.
Tiongkok mencatatkan penurunan produksi baja sebesar 3,6 persen menjadi 76,9 juta ton pada Juli. Secara kumulatif sepanjang periode Januari hingga Juli 2026, produksi baja China juga melorot 3,1 persen menjadi 577 juta ton. Penurunan ini menyeret total produksi baja kasar global selama tujuh bulan pertama tahun ini turun 0,6 persen ke angka 1,08 miliar ton.
Di tengah pelemahan produksi China, beberapa negara produsen utama lainnya justru mencatatkan pertumbuhan positif pada Juli 2026. India memacu produksinya sebesar 1,9 persen menjadi 14,4 juta ton, diikuti produsen Amerika Serikat (AS) yang naik 4,4 persen menjadi 7,4 juta ton, serta Turki yang melonjak 7 persen ke posisi 3,4 juta ton.
Jepang mencatatkan kenaikan tipis 0,4 persen menjadi 6,9 juta ton, sedangkan estimasi produksi Rusia meningkat 3,3 persen menjadi 5,7 juta ton. Selain itu, Jerman mencatat kenaikan estimasi produksi 3 persen menjadi 2,8 juta ton dan Brasil tumbuh tipis 0,1 persen menjadi 2,8 juta ton.
Untuk periode Januari–Juli 2026, India mencatatkan lonjakan output signifikan sebesar 6,1 persen menjadi 101,1 juta ton. Kenaikan serupa dicapai produsen AS yang tumbuh 6 persen menjadi 50,2 juta ton. Turki dan Jerman mengamankan pertumbuhan kuat masing-masing 7,9 persen (23,2 juta ton) dan 8,1 persen (21,4 juta ton).
Sebaliknya, output kumulatif Jepang terkoreksi tipis 0,3 persen menjadi 47,3 juta ton, estimasi produksi Rusia melorot 6,1 persen menjadi 38,1 juta ton, dan Brasil turun 1,2 persen menjadi 19,1 juta ton. Sementara Korea Selatan berhasil menggenjot produksi sebesar 2,7 persen menjadi 37,4 juta ton.
Tajuk Analisis: Pergeseran Peta Manufaktur Global, Perlambatan China, dan Akselerasi Pasar Berkembang
Dinamika produksi baja global pada Juli 2026 mengindikasikan adanya pergeseran peta kekuatan manufaktur dan permintaan konstruksi di tingkat global.
Berikut tiga poin analisis utama:
1. Dampak Penyesuaian Sektor Properti dan Manufaktur China
Penurunan produksi baja China sebesar 3,6 persen pada Juli menegaskan berlanjutnya konsolidasi di sektor real estat dan infrastruktur domestik Tiongkok. Sebagai konsumen sekaligus produsen terbesar dunia, kebijakan pengendalian kapasitas produksi di China secara langsung menekan volume output global, meski sekaligus membantu menahan potensi oversupply di pasar internasional.
2. Ekspansi Masif India dan Negara Ekonomi Berkembang
Pertumbuhan konsisten produksi baja India (naik 6,1% sepanjang Jan-Jul 2026) mencerminkan percepatan pembangunan infrastruktur dan arus industrialisasi yang sangat masif di kawasan Asia Selatan. Peran India kian krusial sebagai penyeimbang utama (counterbalance) dari perlambatan output Tiongkok di panggung manufaktur global.
3. Ketahanan Sektor Industri AS dan Eropa Barat
Lonjakan produksi di AS (naik 6% Jan-Jul) dan Jerman (naik 8,1% Jan-Jul) memberikan sinyal positif terkait pemulihan daya saing manufaktur serta efektivitas dorongan insentif energi dan teknologi hijau di kawasan barat. Fenomena ini menunjukkan resiliensi permintaan baja berkualitas tinggi untuk sektor otomotif dan energi terbarukan di negara-negara maju. Sumber
