Investor Waswas Pengumuman MSCI, IHSG Ditutup Ambles ke Level 6.116
IHSG
MARKET CLOSE

INVESTOR WASWAS PENGUMUMAN MSCI, IHSG DITUTUP AMBLES KE LEVEL 6.116

Pelaku pasar memilih mengurangi risiko menjelang pengumuman MSCI. Tekanan jual meningkat di berbagai sektor sehingga mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan sore ini.

IHSG PENUTUPAN 6.116
SENTIMEN PASAR BEARISH
FOKUS INVESTOR PENGUMUMAN MSCI
KONDISI PERDAGANGAN TEKANAN JUAL MENINGKAT
```
🔥 CRYPTO UPDATE: 🚀 BITCOIN (BTC): $92.450 (+1,52%) 💎 ETHEREUM (ETH): $3.850 (+0,85%) 🔸 BINANCE (BNB): $615,20 (-0,12%) ☀️ SOLANA (SOL): $185,45 (+2,10%) 💰 BTC/IDR: Rp 1,45 Miliar 📊 SENTIMEN: Extreme Greed (78)
MARKET WATCH
USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
BerandaBISNISMakroProduksi Baja Kasar Global Turun di Juli 2026, Penurunan di China Jadi...

Produksi Baja Kasar Global Turun di Juli 2026, Penurunan di China Jadi Pemicu Utama

-

Produksi baja kasar dunia terkoreksi 0,3 persen pada Juli 2026 menjadi 149,2 juta ton akibat penurunan output produksi dari produsen utama, China.

Produksi baja kasar (crude steel) dunia mencatatkan penurunan sebesar 0,3 persen menjadi 149,2 juta ton pada Juli 2026. Laporan resmi World Steel Association pada Senin mengonfirmasi bahwa koreksi ini dipicu oleh penurunan output dari produsen terbesar dunia, China.

Tiongkok mencatatkan penurunan produksi baja sebesar 3,6 persen menjadi 76,9 juta ton pada Juli. Secara kumulatif sepanjang periode Januari hingga Juli 2026, produksi baja China juga melorot 3,1 persen menjadi 577 juta ton. Penurunan ini menyeret total produksi baja kasar global selama tujuh bulan pertama tahun ini turun 0,6 persen ke angka 1,08 miliar ton.

Di tengah pelemahan produksi China, beberapa negara produsen utama lainnya justru mencatatkan pertumbuhan positif pada Juli 2026. India memacu produksinya sebesar 1,9 persen menjadi 14,4 juta ton, diikuti produsen Amerika Serikat (AS) yang naik 4,4 persen menjadi 7,4 juta ton, serta Turki yang melonjak 7 persen ke posisi 3,4 juta ton.

Jepang mencatatkan kenaikan tipis 0,4 persen menjadi 6,9 juta ton, sedangkan estimasi produksi Rusia meningkat 3,3 persen menjadi 5,7 juta ton. Selain itu, Jerman mencatat kenaikan estimasi produksi 3 persen menjadi 2,8 juta ton dan Brasil tumbuh tipis 0,1 persen menjadi 2,8 juta ton.

Untuk periode Januari–Juli 2026, India mencatatkan lonjakan output signifikan sebesar 6,1 persen menjadi 101,1 juta ton. Kenaikan serupa dicapai produsen AS yang tumbuh 6 persen menjadi 50,2 juta ton. Turki dan Jerman mengamankan pertumbuhan kuat masing-masing 7,9 persen (23,2 juta ton) dan 8,1 persen (21,4 juta ton).

Sebaliknya, output kumulatif Jepang terkoreksi tipis 0,3 persen menjadi 47,3 juta ton, estimasi produksi Rusia melorot 6,1 persen menjadi 38,1 juta ton, dan Brasil turun 1,2 persen menjadi 19,1 juta ton. Sementara Korea Selatan berhasil menggenjot produksi sebesar 2,7 persen menjadi 37,4 juta ton.

Tajuk Analisis: Pergeseran Peta Manufaktur Global, Perlambatan China, dan Akselerasi Pasar Berkembang

Dinamika produksi baja global pada Juli 2026 mengindikasikan adanya pergeseran peta kekuatan manufaktur dan permintaan konstruksi di tingkat global.

Berikut tiga poin analisis utama:

1. Dampak Penyesuaian Sektor Properti dan Manufaktur China

Penurunan produksi baja China sebesar 3,6 persen pada Juli menegaskan berlanjutnya konsolidasi di sektor real estat dan infrastruktur domestik Tiongkok. Sebagai konsumen sekaligus produsen terbesar dunia, kebijakan pengendalian kapasitas produksi di China secara langsung menekan volume output global, meski sekaligus membantu menahan potensi oversupply di pasar internasional.

2. Ekspansi Masif India dan Negara Ekonomi Berkembang

Pertumbuhan konsisten produksi baja India (naik 6,1% sepanjang Jan-Jul 2026) mencerminkan percepatan pembangunan infrastruktur dan arus industrialisasi yang sangat masif di kawasan Asia Selatan. Peran India kian krusial sebagai penyeimbang utama (counterbalance) dari perlambatan output Tiongkok di panggung manufaktur global.

3. Ketahanan Sektor Industri AS dan Eropa Barat

Lonjakan produksi di AS (naik 6% Jan-Jul) dan Jerman (naik 8,1% Jan-Jul) memberikan sinyal positif terkait pemulihan daya saing manufaktur serta efektivitas dorongan insentif energi dan teknologi hijau di kawasan barat. Fenomena ini menunjukkan resiliensi permintaan baja berkualitas tinggi untuk sektor otomotif dan energi terbarukan di negara-negara maju. Sumber

 

Endang Suherman
Endang Suhermanhttps://asatunews.biz.id
Pusat komando informasi Asatunews.biz.id. Dari fluktuasi Bitcoin di pasar London hingga taktik strategi di Premier League, kami menyaring ribuan informasi global untuk menyajikannya secara ringkas, akurat, dan berintegritas. Berpatokan pada prinsip 'Resilience Over Returns', kami memastikan informasi yang Anda terima adalah amunisi terbaik untuk navigasi di era ketidakpastian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERKINI

Harga Minyak Mentah Melemah Jelang Pengumuman Sanksi Ekonomi Baru AS terhadap Iran

Harga minyak mentah terkoreksi di tengah penantian pengumuman paket sanksi ekonomi AS terhadap Iran serta potensi gangguan pasokan di Selat Hormuz. Harga minyak mentah dunia bergerak...

Bursa Global Mengalami Tren Aksi Jual, Pasar Cermati Data Inflasi AS, Emas Capai Rekor, dan Laporan Nvidia

Pasar keuangan global mengawali pekan dengan aksi jual di tengah ketegangan geopolitik AS-Iran, proyeksi suku bunga Fed, serta penantian laporan keuangan Nvidia. Pasar keuangan global mengawali...

IHSG Ditutup Menguat ke 6.525, Dimotori Penguatan Bursa Asia dan Perbaikan Defisit NPI

IHSG ditutup naik 0,37 persen ke posisi 6.525,69. Penguatan didorong sentimen positif bursa Asia, membaiknya NPI, dan wacana penghapusan harga minimum saham. Indeks Harga Saham Gabungan...

Rupiah Menguat ke Rp17.694 per Dolar AS, Keputusan BI-Rate Ditahan di 5,75 Persen Jadi Penopang Utama

Nilai tukar rupiah ditutup menguat 54 poin ke Rp17.694 per dolar AS. Keputusan BI mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen sukses menopang stabilitas. Nilai tukar rupiah terhadap...

Popular

BAMSOETNEWS.COM

Referensi Utama

NAVIGASI
POLITIK &
HUKUM

Menyajikan berita aktual, tajam, dan terpercaya langsung dari jantung kebijakan nasional.

Dinamika Parlemen
Analisis Hukum & Peradilan
Update Ekonomi Nasional
Straight News • Faktual • Objektif