IHSG ditutup melemah ke level 7.594 pada Senin (20/4/2026). Simak dampak aksi profit taking dan ketegangan AS-Iran menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Senin sore (20/4/2026). Penurunan ini dipicu oleh aksi profit taking (ambil untung) pelaku pasar yang memilih bersikap waspada menjelang pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Dikutip dari Antara News, IHSG berakhir merosot 39,89 poin atau 0,52 persen ke posisi 7.594,11. Sejalan dengan itu, indeks LQ45 juga terkoreksi 0,40 persen ke level 755,85.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa pelaku pasar tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung pada 21-22 April 2026. Konsensus pasar memprediksi BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.
“IHSG melemah karena aksi taking profit dan wait and see menjelang rilisnya tingkat suku bunga BI. Meskipun inflasi masih berada dalam target, risikonya cenderung meningkat akibat ketegangan geopolitik,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Meski bursa regional Asia cenderung menguat berkat kebijakan suku bunga rendah di China, penguatan tersebut tertahan oleh sentimen negatif dari Amerika Serikat. Washington dilaporkan menyita kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade, sebuah langkah yang memicu ancaman balasan dari Teheran dan menutup peluang negosiasi lanjutan.
Kondisi geopolitik ini memberikan tekanan tambahan bagi pasar domestik. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh atau sebelas sektor di BEI melemah. Sektor properti mencatatkan penurunan terdalam sebesar 1,86 persen, disusul sektor teknologi (-1,62%) dan sektor energi (-1,29%).
Data perdagangan menunjukkan frekuensi transaksi mencapai 2,46 juta kali dengan nilai total Rp17,21 triliun. Sebanyak 424 saham terkoreksi, sementara hanya 247 saham yang berhasil menguat.
Analisis Redaksi Asatunews Intelijen: Tenaga Beli Pasca Reli
Penutupan IHSG di level 7.594 pada awal pekan ini menandakan hilangnya sokongan tenaga beli pasca reli minggu lalu. Secara fundamental, pasar sedang melakukan rekalibrasi risiko terhadap dua variabel besar: kebijakan moneter domestik (RDG BI) dan tensi militer di Selat Hormuz. Penyitaan kapal kargo Iran oleh AS adalah “black swan” baru yang menghancurkan optimisme gencatan senjata sebelumnya.
Sektor properti yang anjlok 1,86% menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap ekspektasi suku bunga. Jika BI memberikan sinyal hawkish atau ketegangan di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi lebih lanjut, IHSG berpotensi menguji level support kuat di 7.550. Investor disarankan untuk tetap memegang porsi tunai (cash) lebih banyak hingga hasil RDG BI diumumkan pada 22 April mendatang. ****
