Wall Street dibuka melemah pada Senin (20/4/2026) akibat penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran. Simak dampak ketegangan AS-Iran terhadap harga minyak.
NEW YORK, ASATUNEWS.BIZ.ID – Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street dibuka cenderung melemah pada awal perdagangan Senin (20/4/2026). Sentimen pasar berbalik negatif seiring meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran yang mengancam kelanjutan gencatan senjata.
Dikutip dari Kontan.co.id via Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 25,1 poin atau 0,05% ke level 49.422,37. Sementara itu, S&P 500 melemah 0,13% ke 7.117,05, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,21% ke posisi 24.417,53 pada pembukaan perdagangan.
Optimisme pasar yang sempat melambung pasca pembukaan Selat Hormuz pada Jumat lalu seketika sirna. Iran dilaporkan kembali menutup jalur pelayaran strategis tersebut sebagai balasan atas tindakan AS yang menyita kapal kargo milik Iran. Kondisi ini diperparah dengan pernyataan Teheran yang belum berencana melanjutkan putaran kedua perundingan dengan pihak Washington.
“Kemajuan menuju gencatan senjata yang berkelanjutan dan pembukaan kembali Selat Hormuz masih bergerak maju mundur,” ujar ekonom politik senior Aberdeen, Lizzy Galbraith, mencermati ketidakpastian diplomasi yang berubah cepat.
Ketidakpastian ini memicu lonjakan harga minyak hingga 5%, yang mendongkrak saham energi seperti Exxon Mobil dan Chevron. Namun, di sisi lain, indeks volatilitas CBOE (VIX) atau indikator “ketakutan” pasar naik ke level 19,27, angka tertinggi dalam sepekan terakhir.
Investor kini mengalihkan fokus pada rilis laporan keuangan kuartal I-2026 dari emiten raksasa seperti Lockheed Martin, IBM, hingga Tesla, untuk mengukur sejauh mana konflik geopolitik ini menggerus kinerja korporasi global.
Analisis Redaksi Asatunews Intelijen: Kegagalan De-eskalasi
Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran setelah penyitaan kapal kargo oleh AS menandai kegagalan de-eskalasi yang sempat direspon positif oleh pasar pada akhir pekan lalu. Secara teknikal, pergerakan Wall Street yang melemah tipis menunjukkan adanya “keraguan” besar di kalangan pengelola dana. Di satu sisi, sektor energi diuntungkan oleh lonjakan harga minyak mentah, namun di sisi lain, biaya logistik dan ancaman inflasi global akibat blokade laut kembali membayangi.
Meningkatnya VIX ke level 19,27 adalah sinyal bahwa pasar sedang bersiap menghadapi volatilitas tinggi. Kunci arah pergerakan pasar pekan ini bukan hanya terletak pada berita militer di Timur Tengah, melainkan pada laporan keuangan korporasi. Jika emiten teknologi seperti Tesla memberikan guidance yang lemah akibat disrupsi rantai pasok global, maka potensi koreksi IHSG dan bursa global lainnya bisa lebih dalam dari yang diperkirakan. ***
