IHSG ditutup turun 1,51 persen ke level 6.147,86 akibat tekanan sentimen global dan domestik, kenaikan imbal hasil obligasi AS, harga minyak, serta perubahan aturan perdagangan BEI.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Senin, tertekan kombinasi sentimen global dan domestik.
IHSG turun 94,03 poin atau 1,51 persen ke posisi 6.147,86. Sementara itu, indeks LQ45 yang mengukur kinerja 45 saham unggulan melemah 9,30 poin atau 1,50 persen ke level 611,81.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan tekanan terhadap IHSG berasal dari faktor eksternal maupun internal.
Dari eksternal, bursa regional Asia cenderung melemah seiring kembali meningkatnya ketidakpastian di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak.
Salah satu sentimen yang menjadi perhatian adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump juga menyebut Teheran telah bertindak berlebihan dan berharap negosiasi dapat kembali berlangsung pada pekan ini.Imbal Hasil Obligasi AS Jadi Perhatian
Sentimen negatif lainnya berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun mendekati 5,17 persen.
Kenaikan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai semakin ketatnya kondisi keuangan global dan kemungkinan berlanjutnya kenaikan suku bunga.
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mengatakan faktor-faktor tersebut, ditambah kekhawatiran terhadap utang pemerintah, turut berkontribusi terhadap kenaikan imbal hasil obligasi Treasury jangka panjang.
Dari dalam negeri, Nico mengatakan perhatian pasar juga tertuju pada tingginya harga minyak yang berpotensi memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal.
BEI Ubah Batas Bawah Harga Saham
Di tengah tekanan pasar, BEI resmi mengubah batas bawah harga saham dari sebelumnya Rp50 menjadi Rp1.
Penyesuaian tersebut merupakan bagian dari reformasi pasar modal dan dinilai sebagai respons terhadap perhatian terhadap struktur pasar modal domestik, termasuk yang berkaitan dengan evaluasi MSCI.
Pada saat yang sama, BEI memperketat kriteria Full Call Auction (FCA) dengan menghapus pemicu nonfundamental. Perubahan tersebut menyebabkan 92 saham keluar dari Papan Pemantauan Khusus.
Menurut Nico, penyesuaian aturan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kepercayaan investor institusi global serta menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia semakin terbuka, transparan, dan adaptif.
Namun, perubahan tersebut juga berpotensi menimbulkan tekanan psikologis bagi sebagian investor ritel. Kondisi itu, menurut Nico, juga rawan dimanfaatkan spekulan untuk melakukan manipulasi harga dalam jangka pendek.
IHSG Bertahan di Zona Merah
IHSG dibuka melemah dan bertahan di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan. Pada sesi kedua, indeks kembali berada di zona merah hingga perdagangan berakhir.
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, terdapat sektor yang menguat dan sektor yang melemah. Sektor teknologi tercatat naik 0,05 persen, sedangkan sektor energi menguat 0,04 persen.
Di sisi lain, sejumlah sektor mengalami tekanan. Sektor yang disebut mengalami penurunan antara lain sektor barang baku sebesar 3,09 persen dan sektor barang konsumen nonprimer sebesar 2,57 persen.
Sejumlah saham yang mengalami penguatan harga terbesar antara lain TAMU, BLTA, MIRA, PBRX, dan PPRO. Sementara saham yang mengalami pelemahan terbesar antara lain FORU, TRUE, SHID, MGNA, dan LIFE.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1,63 juta transaksi dengan volume 34,07 miliar lembar saham senilai Rp12,57 triliun. Sebanyak 192 saham naik, 554 saham turun, dan 217 saham tidak mengalami perubahan harga.
Bursa Asia Mayoritas Melemah
Tekanan juga terlihat pada sejumlah bursa saham regional Asia.
Indeks Nikkei melemah 0,69 persen ke 65.908,00. Indeks Shanghai turun 1,67 persen ke 3.823,62. Indeks Kuala Lumpur melemah 2,70 persen ke 6.889,74.
Sementara itu, indeks Hang Seng menguat 0,54 persen ke 24.642,51 dan indeks Straits Times naik 0,49 persen ke 5.739,01.
Pergerakan pasar global, harga minyak, imbal hasil obligasi AS, perkembangan geopolitik, serta perubahan kebijakan di pasar modal domestik menjadi sejumlah faktor yang mewarnai perdagangan saham Indonesia. Sumber
