Indeks dolar AS naik ke 101,24, level tertinggi dalam hampir dua bulan, didorong data PMI AS yang kuat, kenaikan harga minyak, risiko geopolitik, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
IIndeks dolar AS (DXY) menguat ke level 101,24, sekaligus mencatat posisi tertinggi dalam hampir dua bulan. Penguatan tersebut terjadi di tengah ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter yang lebih hawkish.
Kinerja ekonomi Amerika Serikat yang masih kuat, tekanan inflasi yang berlanjut, serta perkiraan bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga mendorong permintaan terhadap dolar AS.
Minat investor terhadap aset tunai juga meningkat di tengah risiko geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Kondisi tersebut turut menopang penguatan dolar AS sebagai mata uang yang banyak digunakan investor ketika ketidakpastian pasar meningkat.
Data PMI AS Perkuat Dolar
Penguatan dolar semakin mendapat dukungan dari data ekonomi terbaru Amerika Serikat. Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur AS mencapai 57, level tertinggi dalam 52 bulan.
Sementara itu, PMI sektor jasa mencapai 58,7, yang merupakan level tertinggi dalam 59 bulan.
Data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi AS masih relatif kuat. Kondisi itu kemudian memperkuat spekulasi bahwa The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan kembali menaikkan suku bunga.
Pasar uang kini memperkirakan terdapat probabilitas sekitar 70 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan berikutnya.
Jane Foley, senior foreign exchange strategist di Rabobank, mengatakan kepada Anadolu bahwa data PMI yang kuat menunjukkan tingkat vitalitas ekonomi yang berpotensi menjadi perhatian bagi kelompok hawkish di The Fed.
Menurut Foley, dampak data tersebut semakin kuat setelah kenaikan harga minyak dan pernyataan anggota Dewan Gubernur The Fed Michael Barr yang mengisyaratkan kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga tambahan.
Kombinasi faktor tersebut mempercepat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter The Fed dalam waktu dekat dan kemudian menopang nilai dolar AS.
Euro Menghadapi Sejumlah Tekanan
Foley juga mencatat bahwa spekulasi mengenai kebijakan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) masih berlangsung di pasar.
Namun, ruang penguatan euro dinilai terbatas karena kawasan euro merupakan pengimpor energi. Perkembangan politik di Prancis juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi prospek euro ke depan.
Sementara itu, Kyle Chapman, analis pasar valuta asing dari Ballinger Group yang berbasis di London, mengatakan penguatan dolar AS dipengaruhi oleh pergeseran sikap The Fed yang semakin hawkish, lemahnya minat terhadap aset berisiko, serta harga minyak yang masih tinggi.
Menurut Chapman, imbal hasil surat berharga AS meningkat di berbagai tenor setelah Warsh kembali menegaskan komitmennya terhadap disiplin kebijakan moneter.
Penguatan Dolar Dinilai Mulai Berlebihan
Francesco Pesole dari ING Group mengatakan data PMI AS yang kuat, kenaikan harga minyak, dan lemahnya minat terhadap risiko turut mendorong penguatan dolar.
Namun, ia menilai pergerakan dolar mulai terlihat “terlalu jauh” jika dibandingkan dengan kondisi fundamental.
Pesole masih berhati-hati untuk menyatakan bahwa dolar telah mencapai titik terendah. Menurutnya, kejutan positif dari data ekonomi AS berikutnya dapat dengan mudah mendorong pasar memperhitungkan sepenuhnya kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober dan kembali mendorong kenaikan suku bunga jangka pendek.
Namun, jika risiko tersebut tidak terjadi, Pesole memperkirakan DXY berpotensi mengalami koreksi dalam beberapa pekan mendatang dan kembali ke kisaran 100–100,5.
USD/JPY Jadi Perhatian
Pergerakan USD/JPY juga menjadi salah satu sumber risiko bagi dolar AS. Menurut Pesole, kenaikan pasangan mata uang tersebut yang berlangsung cepat dapat mendorong otoritas Jepang melakukan intervensi.
Jika intervensi terjadi, dampaknya berpotensi merambat ke pasar valuta asing secara lebih luas dan memberikan tekanan terhadap dolar AS terhadap sejumlah mata uang lainnya.
Dengan demikian, arah dolar dalam beberapa pekan mendatang akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi data ekonomi AS, perkembangan harga minyak, kebijakan The Fed, kondisi geopolitik, serta respons otoritas Jepang terhadap pergerakan yen. Sumber
