Pasar saham global menguat & harga minyak Brent turun ke US$98 (25/3/2026) menyusul draf gencatan senjata AS-Iran. Simak rincian proposal damai Washington.
JAKARTA, ASATUNEWS.BIZ.ID – Angin segar berembus ke pasar keuangan global pada perdagangan Rabu (25/3/2026). Optimisme investor mencuat menyusul laporan bahwa Amerika Serikat tengah mendorong rencana gencatan senjata selama satu bulan dalam konflik bersenjata dengan Iran. Langkah diplomasi ini memicu harapan pulihnya jalur ekspor minyak di kawasan Teluk Persia yang sempat lumpuh.
Respons pasar terpantau sangat positif. Kontrak berjangka indeks S&P 500 naik 0,9% pada perdagangan pagi di Asia, sementara bursa saham di Australia, Korea Selatan, dan Jepang kompak menguat masing-masing sekitar 2%. Di sisi lain, harga minyak mentah jenis Brent merosot tajam sekitar 6% ke level US$98,30 per barel, menjauh dari zona merah di atas US$100.
Presiden AS Donald Trump pada Selasa (24/3/2026) memberikan sinyal kuat bahwa negosiasi mulai menunjukkan kemajuan berarti, termasuk adanya klaim konsesi penting dari pihak Teheran. Washington dikabarkan telah mengirimkan proposal perdamaian berisi 15 poin yang menjadi landasan pembahasan gencatan senjata tersebut.
Meskipun demikian, Iran secara resmi membantah telah melakukan pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat. Ketidakpastian ini membuat para analis menyarankan sikap hati-hati. “Pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh berita utama (headlines). Pergerakan cenderung positif, tetapi masih banyak ketidakpastian terkait arah gencatan senjata,” ujar Kerry Craig, analis pasar global.
Di tengah fluktuasi ini, harga emas berhasil menguat 1,6% setelah sebelumnya sempat tertekan aksi ambil untung. Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun turun ke level 4,34% seiring naiknya harga obligasi.
Namun, di balik optimisme bursa saham, tekanan mulai muncul di pasar kredit swasta. Ares Management dilaporkan membatasi penarikan dana pada salah satu produk utangnya, sebuah langkah yang memicu kekhawatiran likuiditas di kalangan investor. Saham perusahaan tersebut bahkan telah anjlok 36% sejak awal tahun 2026.
Pelaku pasar kini menanti kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, mengingat harga minyak Brent masih tercatat naik 35% sejak konflik dimulai, sebuah level yang terus membebani ekonomi negara-negara konsumen di Asia.
Sumber: MSN / Ekonomi
