Harga minyak Brent naik ke US$102 per barel akibat serangan Iran ke infrastruktur energi UEA dan Irak. Simak dampak blokade Selat Hormuz bagi pasokan global.
NEW YORK, ASATUNEWS.BIZ.ID – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (17/3/2026) setelah Iran melanjutkan serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah. Ketegangan semakin memuncak setelah pihak Israel mengklaim telah menewaskan pejabat senior keamanan Iran, Ali Larijani, meskipun Teheran belum mengonfirmasi kabar tersebut.
Minyak acuan Brent diperdagangkan di atas level US$102 per barel, setelah sempat turun hampir 3% pada Senin lalu. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan operasional di lapangan gas Shah di Uni Emirat Arab (UEA) serta serangan drone dan rudal yang menargetkan ladang minyak di Irak.
Kondisi logistik energi semakin kritis setelah aktivitas pemuatan minyak mentah di pelabuhan Fujairah—satu-satunya pusat ekspor UEA di luar Selat Hormuz—kembali dihentikan. Analis dari JPMorgan Chase & Co, Natasha Kaneva, menyebut bahwa lalu lintas melalui Selat Hormuz kini menjadi “sangat terkondisi,” di mana Iran diduga hanya mengizinkan kapal-kapal tertentu melintas berdasarkan afiliasi mereka.
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa sejumlah kapal terpaksa keluar dari Hormuz dengan rute yang sangat dekat dengan garis pantai Iran. Sementara itu, jumlah kapal Iran yang melintasi jalur tersebut melonjak ke level tertinggi selama masa perang, termasuk satu tanker minyak yang menuju Tiongkok.
Presiden AS, Donald Trump, pada Senin mengancam akan memperluas serangan ke Pulau Kharg dengan menargetkan infrastruktur minyak Iran, setelah sebelumnya sempat menghindari aset energi tersebut. Trump menegaskan bahwa Washington sedang berupaya keras melumpuhkan kapasitas Teheran dalam mengancam pelayaran komersial.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa AS masih membiarkan Iran mengirimkan minyak mentah melalui jalur tersebut dan menegaskan Washington belum melakukan intervensi di pasar derivatif energi.
Harga minyak secara total telah melonjak lebih dari 40% sejak perang pecah tiga minggu lalu. Emily Ashford, kepala riset energi di Standard Chartered, menilai Iran sengaja memperluas konflik untuk menunjukkan kemampuannya dalam mendorong harga jauh lebih tinggi sebagai bentuk pencegahan.
Sebagai langkah antisipasi, Arab Saudi dilaporkan sedang berupaya meningkatkan ekspor melalui rute alternatif yang melewati Selat Hormuz guna menjaga stabilitas pasokan global yang kini mulai terdampak serius, terutama di pasar Asia.
Sumber: Yahoo Finance
Minyak Dunia Tembus US$102: Akankah Harga Pangan dan Transportasi Lebaran 2026 Melonjak Drastis?
Lonjakan harga minyak mentah Brent yang kini bertengger di atas US$102 per barel akibat eskalasi di Selat Hormuz menjadi alarm keras bagi perekonomian Indonesia. Situasi ini terjadi di momen yang sangat sensitif, yaitu menjelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 H.
Jika harga minyak dunia bertahan di atas US$100 atau bahkan menembus US$110 selama Ramadan, Indonesia akan menghadapi efek domino yang signifikan:
1. Tekanan Berat pada APBN dan Subsidi BBM
Asumsi harga minyak dalam APBN Indonesia biasanya berada di kisaran US$75–US$80. Dengan harga riil di atas US$100, beban subsidi dan kompensasi energi akan membengkak drastis. Pemerintah dihadapkan pada dua pilihan sulit: menambah utang untuk menambal subsidi, atau melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi secara masif yang dapat memicu kepanikan pasar.
2. Kenaikan Biaya Logistik dan Pangan
Ramadan selalu identik dengan kenaikan permintaan bahan pokok. Namun, kali ini tekanan datang dari sisi suplai. Biaya solar untuk truk pengangkut logistik dan avtur untuk transportasi mudik akan merangkak naik. Jika biaya angkut naik 10-20%, harga komoditas pangan seperti beras, daging, dan cabai di pasar tradisional diprediksi akan mengalami kenaikan ganda (double shock).
3. Tarif Mudik Lebaran 2026
Kenaikan harga minyak adalah musuh utama sektor transportasi. Maskapai penerbangan dan perusahaan bus antarkota dipastikan akan menyesuaikan tarif (tuslah) lebih awal untuk menutupi biaya operasional yang membengkak. Bagi masyarakat, ini berarti biaya mudik tahun ini akan jauh lebih mahal dibandingkan tahun lalu.
4. Kurs Rupiah yang Terjepit
Indonesia adalah net importer minyak. Kenaikan harga minyak berarti kebutuhan dolar AS untuk impor migas meningkat. Hal ini memberikan tekanan depresiasi pada Rupiah (yang pagi ini berada di Rp16.965). Jika Rupiah melemah ke Rp17.000 bersamaan dengan naiknya harga minyak, inflasi dari barang impor (imported inflation) tidak akan terhindarkan.
Pemerintah kemungkinan besar akan memperketat pengawasan distribusi BBM bersubsidi agar tidak jebol sebelum lebaran. Bagi pelaku usaha, melakukan stok bahan baku lebih awal adalah langkah bijak sebelum gelombang kenaikan harga logistik benar-benar menghantam di pertengahan Ramadan.
