Wall Street menutup kuartal III 2026 dengan kinerja beragam. Dow Jones turun 2,7%, sementara S&P 500 naik 2% dan Nasdaq 2,5% di tengah tekanan harga energi dan imbal hasil obligasi.
Pasar saham Amerika Serikat (AS) menutup kuartal III 2026 dengan kinerja yang berbeda antarindeks. Dow Jones Industrial Average turun 2,7% sepanjang Juli-September, sementara S&P 500 naik 2% dan Nasdaq Composite menguat 2,5%.
Pergerakan tersebut berlangsung di tengah kenaikan harga energi, meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, kekhawatiran inflasi, serta perubahan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).
Tekanan terhadap Dow mencerminkan sensitivitas sejumlah saham perusahaan besar terhadap kenaikan biaya input dan kondisi kredit yang lebih ketat. Sebaliknya, permintaan institusional terhadap perusahaan semikonduktor, infrastruktur komputasi awan, dan teknologi kecerdasan buatan (AI) membantu menopang S&P 500 dan Nasdaq. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).
Kuartal I Penuh Tekanan
Perjalanan pasar saham AS sepanjang 2026 berlangsung volatil. Pada kuartal pertama, ketegangan di Timur Tengah dan gangguan lalu lintas pelayaran memicu aksi jual di pasar saham.
Dow Jones turun 3,6%, S&P 500 merosot 4,6%, sedangkan Nasdaq Composite jatuh 7,1% pada Januari-Maret. Kenaikan harga minyak akibat gangguan pasokan turut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).
Situasi berubah pada kuartal II setelah gencatan senjata AS-Iran pada awal periode tersebut meredakan sebagian kekhawatiran geopolitik. Penurunan biaya energi serta antusiasme terhadap penawaran saham perdana SpaceX juga menjadi faktor yang mendukung pasar.
Pada April-Juni, Dow Jones melonjak 12,9%, S&P 500 naik 14,9%, sedangkan Nasdaq Composite mencatat kenaikan 21,4%. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).
Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi Menjadi Beban
Memasuki kuartal III, investor kembali menghadapi ketidakpastian akibat kenaikan harga energi dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed.
Harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) meningkat di tengah kekhawatiran pasokan. Kenaikan harga energi kemudian memperbesar kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan bertahan lebih lama karena biaya produksi dan logistik ikut meningkat. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).
Data Nasdaq menunjukkan imbal hasil Treasury 10 tahun meningkat 54 basis poin menjadi 5,29% pada September, sementara imbal hasil obligasi 30 tahun mencapai 5,62%. Kenaikan tersebut menjadi salah satu perkembangan utama pasar keuangan AS pada kuartal III. (Nasdaq, 30 September 2026).
Kenaikan imbal hasil obligasi juga meningkatkan biaya pendanaan dan memberikan tekanan terhadap valuasi saham, khususnya ketika investor menghadapi ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama.
Rotasi dari Teknologi ke Energi
Pada Juli, terjadi rotasi sektoral ketika sebagian investor mengurangi eksposur terhadap saham teknologi dan beralih ke perusahaan energi.
Perubahan tersebut membuat Dow Jones masih mencatat kenaikan 0,3% pada Juli, sementara S&P 500 turun 0,1% dan Nasdaq Composite merosot 3,2%. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).
Pasar kemudian kembali menguat pada Agustus. Dow naik 1,3%, S&P 500 bertambah 2,6%, sedangkan Nasdaq Composite meningkat 3,9%. Namun, kenaikan tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya tekanan di pasar obligasi.
Nasdaq mencatat kenaikan imbal hasil Treasury pada September dipengaruhi kombinasi pertumbuhan ekonomi yang masih kuat, tekanan inflasi, harga energi yang lebih tinggi, perubahan kebijakan moneter, serta besarnya penerbitan utang pemerintah dan korporasi. (Nasdaq, 30 September 2026).
September Menjadi Bulan Berat
September menjadi periode penuh tekanan bagi pasar. Kurangnya perkembangan konkret menuju perdamaian di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap pasokan energi mendorong harga minyak Brent mendekati US$110 per barel pada pertengahan bulan.
Harga diesel di AS juga mencapai US$6,53 per galon pada 22 September, berdasarkan data American Automobile Association (AAA). Kenaikan harga energi tersebut memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).
Pasar obligasi kemudian mengalami tekanan jual. Imbal hasil Treasury 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007, sementara imbal hasil Treasury 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2002. Rata-rata suku bunga hipotek 30 tahun di AS juga meningkat menjadi sekitar 7,3%. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).
Reuters melaporkan imbal hasil Treasury 30 tahun mencapai 5,6206% pada 29 September, sedangkan imbal hasil 10 tahun berada di sekitar 5,293%, mencerminkan tekanan yang masih kuat di pasar obligasi. (Reuters, 29 September 2026).
Dow Turun, Nasdaq Tetap Menguat
Sepanjang September, Dow Jones turun 4,3%, sementara S&P 500 melemah 0,5%. Nasdaq Composite justru mencatat kenaikan 1,9%.
Jika dihitung sepanjang kuartal III, Dow Jones turun 2,7%, S&P 500 naik 2%, dan Nasdaq Composite bertambah 2,5%. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).
Kinerja tersebut menunjukkan perbedaan yang cukup jelas antara saham-saham yang sensitif terhadap biaya dan suku bunga dengan perusahaan teknologi yang masih mendapatkan dukungan dari permintaan terhadap AI dan infrastruktur digital.
Wall Street Journal juga mencatat bahwa S&P 500 dan Nasdaq tetap ditopang oleh saham teknologi, meskipun kenaikan imbal hasil obligasi mulai memberikan tekanan terhadap pasar saham. (Wall Street Journal, 1 Oktober 2026).
Fed Naikkan Suku Bunga
Perubahan kebijakan moneter menjadi salah satu faktor penting pada kuartal III. Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4% pada September.
Kenaikan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak 2023. Bank sentral AS juga menaikkan proyeksi suku bunga federal funds pada akhir 2026 dari 3,8% menjadi 4,1%, yang menunjukkan kemungkinan adanya kenaikan berikutnya pada tahun ini. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).
Tekanan dari inflasi dan harga energi menjadi perhatian karena suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pinjaman sekaligus memberikan tekanan terhadap pasar obligasi dan saham.
Masih Positif Sepanjang 2026
Meskipun kuartal III berakhir dengan kinerja beragam, ketiga indeks utama Wall Street masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Dow Jones naik 5,9% sejak awal tahun, S&P 500 bertambah 11,8%, sementara Nasdaq Composite mencatat kenaikan 15,6% hingga akhir September. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).
Dengan demikian, memasuki kuartal IV, pasar saham AS menghadapi kombinasi sejumlah faktor utama: harga energi, inflasi, imbal hasil Treasury, kebijakan suku bunga The Fed, kondisi utang pemerintah, serta keberlanjutan permintaan terhadap sektor teknologi dan AI. (ASATUNEWSBIZ-01)
