Rupiah ditutup melemah 0,53% ke Rp17.965 per dolar AS pada perdagangan 28 September 2026. Penguatan dolar dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali menekan rupiah.
Tekanan terhadap rupiah semakin berat pada awal pekan. Mata uang Garuda ditutup melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Mengacu data Refinitiv, rupiah pada perdagangan Senin (28/9/2026) ditutup di level Rp17.965 per dolar AS, atau melemah 0,53%. Dengan posisi tersebut, rupiah hanya berjarak 35 poin dari level Rp18.000 per dolar AS.
Tekanan sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka melemah 0,22% ke level Rp17.920 per dolar AS.
Pelemahan kemudian berlanjut sepanjang perdagangan. Dolar AS bahkan sempat menyentuh Rp17.985, yang menjadi posisi terlemah rupiah pada hari tersebut. Menjelang penutupan, rupiah hanya mampu menguat sekitar 20 poin dari level tersebut.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat 0,16% ke posisi 101,135 pada pukul 15.00 WIB.
Penguatan Dolar Kembali Menekan Rupiah
Pelemahan rupiah terjadi ketika dolar AS kembali menguat terhadap berbagai mata uang dunia.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai fenomena penguatan dolar atau strong dollar terutama dipicu oleh kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
The Fed disebut baru saja menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. BI juga masih memperkirakan bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga satu kali lagi pada kuartal IV-2026.
Ekspektasi tersebut membuat aset berdenominasi dolar AS semakin menarik bagi investor. Kondisi ini mendorong indeks DXY kembali menembus level 101 sekaligus meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Inflasi dan Harga Energi Jadi Perhatian
Menurut Destry, pengetatan kebijakan moneter global tidak terlepas dari tekanan inflasi yang masih tinggi.
Inflasi global disebut telah mencapai 4,6%. Kondisi tersebut mendorong sejumlah bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Tekanan inflasi juga dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas energi akibat konflik yang belum mereda di berbagai kawasan, terutama di Timur Tengah.
Destry menyebut harga minyak pada 24 September 2026 telah mencapai US$125,53 per barel. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga rata-rata minyak pada Agustus 2026 yang berada di kisaran US$90,88 per barel.
BI Fokus Menjaga Stabilitas Rupiah
Tingginya suku bunga AS juga memberikan tekanan terhadap aliran modal asing ke pasar domestik. Kondisi tersebut membuat Bank Indonesia terus mengarahkan kebijakan moneternya untuk menjaga stabilitas eksternal dan nilai tukar rupiah.
“Kebijakan moneter akan lebih pro-stability, lainnya kita arahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).
Dengan posisi Rp17.965 per dolar AS, pergerakan rupiah kini semakin dekat dengan level psikologis Rp18.000. Perkembangan kebijakan The Fed, kekuatan dolar AS, inflasi global, serta harga energi menjadi sejumlah faktor yang akan terus menjadi perhatian pasar dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sumber
